Navigation Menu

Persiapan Semester Genap 2015-2016 untuk Dosen IKS


Yogyakarta (10/2/2016). Setelah melewati berbagai problem teknis terkait pembayaran SPP dan input KRS, hingga kuliah harus diundur satu minggu, akhirnya kita akan memulai kuliah semester genap 2015/2016. Secara resmi kuliah akan dimulai Senin, 15 Februari 2016.

Terkait pelaksanaan kuliah minggu depan, Prodi IKS menyediakan link file-file SK berikut untuk bisa diakses dan diunduh Bapak Ibu (silakan di klik di teksnya)

1. Jadwal Kuliah Genap 1516
2. Folder Form Kesediaan Mengajar (akses terbatas dengan akun SIA)
3. SK Mengajar Genap 1516
3. Halaman Upload SAP
4. Halaman Upload Bahan Ajar
5. SK Dosen Penasehat Akademik Genap 2015/2016
6. Form DPA (akses terbatas denga akun SIA)
7. File SK Pembimbing dan Penguji Skripsi Genap 1516

Jika Bapak-Ibu menghendaki hardcopy atau penyerahan offline, silakan mampir sekretariat Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial :)

Update KRS Darurat


(9/2/2016) UPDATE KRS Darurat:

Pukul 08:00

Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial telah mengirimkan daftar 117 mahasiswa yang mendaftar untuk input manual melalui bit.ly/KRSdarurat (daftar 117 orang bisa dilihat di bawah). Kita masuk antrian terdepan dan hasilnya segera bisa kita terima hari ini juga untuk dievaluasi.


Pukul 15:30

Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial menerima hasilnya dari PTIPD.
Pesan dari PTIPD: silakan lihat catatan petugas di kolom paling kanan.
Pesan Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial: Tolong cek dalam daftar berikut. Bila dibutuhkan keterangan lebih lanjut silakan kontak Kaprodi IKS.

Pukul 16:00
Prodi Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial sudah mengirimkan kembali daftar kelompok kedua.
@prodiiks : duh, kenapa juga masih banyak yang belum? coba kalau input dari kemarin-kemarin..
Catatan PTIPD: Kelompok 2 akan menunggu lebih lama untuk selesai karena sudah antri dengan prodi-prodi lain. Daftar nama yang lolos Kloter Kedua di bawah ini



Tindak lanjut KRS Darurat



Kepada mahasiswa IKS yang kami sayangi,

Seperti kami sampaikan sebelumnya, terkait hiruk pikuk SIA, sikap final Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial adalah menyediakan fasilitas KRSdarurat untuk Anda yang gagal input via SIA. (Cek berita sebelumnya: http://iks.uin-suka.ac.id/2016/02/sikap-prodi-iks-terkait-perpanjangan.html)

Terkait layanan tersebut, Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial akan mengirimkan data yang telah masuk besok pagi pukul 08.00 kepada pihak yang 'berkewajiban'.

Oleh sebab itu, mohon kerjasama Anda untuk:
  • Pertama, memeriksa daftar yang telah masuk ke sistem KRSdarurat berikut ini.
  • Kedua, bila ada yang perlu diupdate, direvisi, atau ditambah silakan isi ulang KRSdarurat. Data yang masuk lebih akhir akan kami nggap sebagai data yang sahih. Alamat formnya masih di bit.ly/KRSdarurat
  • Bagi yang ingin membatalkan karena sudah berhasil input via SIA, tolong input ulang dengan mengisi "Batal" pada isian "mata kuliah dan kelas yang diharapkan"
  • Update data akan kami tunggu hingga besok pagi pukul 07:00
Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial TIDAK akan melayani pendaftaran secara offline.

Terimakasih perhatiannya.

Kaprodi IKS
Arif Maftuhin, M.Ag, MAIS


Rekap Data KRSdarurat

Ini cara Anak Sapen dan Sydney Pisahan: Diskusi Bro!


Foto bersama Sebelum Berpisah
Oleh Teguh MU

Jumat (5/2/2016). Acara closing ceremony student workshop: ”Exploring Cross-cultural Social Work”, di hall pascasarjana UIN Sunan Kalijaga berubah menjadi forum diskusi dadakan. Sebanyak 30an peserta baik dari UIN maupun dari Sydney, saling bertukar pendapat mengenai penanganan permasalahan social. Pemicunya adalah presentasi penutup yang disampaikan oleh Mrs. Margareth.
Dalam presentasinya, Margareth memaparkan kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Australia terhadap para imigran gelap. Alasan ekonomi dan politik, menjadi alas an kuat yang mempengaruhi campur tangan pemerintah dalam mengintervensi para imigran. Di Australia, tidak semua warganya menerima keberadaan para pendatang ini. Sebagian orang menganggap para pengungsi (terutama yang berasal dari Negara konflik) dapat menimbulkan masalah baru. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah Australia adalah dengan mengirimkan para imigran tersebut ke pulau-pulau kecil disekitar wilayah perairan Australia.

Di pulau-pulau seperti Nauru dan Christmas Island, yang notabene merupakan Negara dunia ketiga. Tentu masih sangat kekurangan dalam hal sumber daya, baik alam maupun manusia. Menempatkan imigran di kedua pulau tersebut dianggap sebagai langkah ‘pembuangan’ secara halus. Center-center imigran yang tersedia pun dinilai masih kurang memadahi.

Menurut data dari asosiasi pekerja social Australia, ada sekitar 370 pengungsi yang berada di Nauru rawan terhadap tindak kekerasan. Pemerintah Australia seakan cuek dengan apa yang terjadi di Nauru dan center-center yang lain. Besarnya anggaran untuk memfasilitasi mereka menjadi salah satu factor lemahnya perhatian pemerintah terhadap para imigran. Pun dengan mengembalikan mereka ke Negara asal, juga butuh biaya yang besar.

Secara garis besar, Margareth menyimpulkan bahwa, sebagai seorang peksos, peksos jangan hanya terpaku pada tindakan pertolongan level mikro. Peksos juga harus berfikir tentang level makro. Kebijakan yang merugikan klien, merupakan bagian dari sesuatu yang harus diperjuangkan. Oleh karena itulah, sangat pentingt bagi seorang peksos, untuk mampu menganalisis suatu kebijakan, apakah kebijakan tersebut pro rakyat kecil ataukah justru menindas rakyat kecil.

Presentasi dari Margareth tersebut, mendapat respon dari salah satu peserta workshop. Nadjib, mahasiswa IIS UIN, berpendapat bahwa langkah yang dilakukan pemerintahan Australia dengan ‘menggantungkan’ nasib para imigran ini sebagai tindakan yang kurang etis. Nadjib juga mengungkapkan bahwa, baik Indonesia maupun Australia, sebenarnya memiliki kesamaan dalam penanganan imigran. Yakni sama-sama melihat dari aspek ekonomi dan politik, dengan mengesampingkan nilai kemanusiaaan.

Suasana diskusi semakin hidup setelah para peserta saling berbagi pengalaman saat praktik pekerjaan social di negaranya masing-masing. Dari diskusi ini, peserta saling memberi tips dan saran terkait kasus yang dihadapi selama di lapangan. Seperti kasus yang didampingi oleh Ekmil, mahasiswa semester 6 IKS ini mendampingi klien pengguna narkoba. Klien sudah merasa sangat nyaman dengan Ekmil, sehingga klien tidak mau didampingi oleh peksos lain. Menanggapi kasus tersebut, Katie menyarankan kepada Ekmil, agar ketika hendak melakukan intervensi, klien harus diberi pemahaman tentang tugas atau fungsi peksos dalam kasusnya. Peksos juga harus memiliki batasan-batasan tertentu agar kejadian semacam ini tidak terjadi.

Beasiswa BNI dan Beasiswa Laznas

Jumat (5/2/2016). Kesempatan beasiswa 2016 sudah mulai dibuka. Dua kesempatan pertama datang dari BNI dan Laznas Bank Syariah Mandiri. Silakan cek informasinya di bawah dan hubungi Pak Darmawan untuk mendapatkan bantuan penyediaan surat keterangan dan formulir yang diperlukan.


Untuk informasi selengkapnya unduh file PDF di link ini.


Selengkapnya unduh di link ini.


A Note from the Student Workshop on Exploring Cross-Cultural Social Work



Exploring Cross-cultural Social Work- 
A Student Workshop by University of Sydney and UIN Kalijaga  
by Nur Kholidah

Yogyakarta (5/2/2016). The profession of social work developed with its unique emphasis on directly helping people as well as improving their environment. Social work deals not only with internal aspect of human condition but also with its external aspects. Social workers are able to help clients to receive needed medical, financial, groceries, educational services that improve their lives. Because social workersact as advocates by helping their clients to access the services from the government, their goals is  to help people become self-sufficient by only doing for people what they may be unable to do for themselves. Its look like our goal as students of social welfare (IKS) at UIN Kalijaga is helping people to help themselves.
            Social workers have to understand social problems in society. The problem in society is very complex. For example: poverty, social stratification, economic issues, public health, abortion, environmental racism, education and public schools, immigrant, work and occupations, ect.  According many social problem in society, students of social welfare already trained to finishing a social problem. So, this workshop be importantly for social work students discussing about social issue in Australia and Indonesia. The first, we have been talking about illegal immigrant in Australia which have a complex of social problem by Mrs. Margaret.
            The Australian government has a controversial policy in dealing with the refugees. The country is not reluctant to stop refugees' boat and make them return or restrain them in Nauru Island. The refugees' life is very heartbreaking, because they stay only on tent in warming area and all of them are locked up with a grating. Nauru island didn’t has a hospital, school, places of worship, a shop for their needed. So one day, there is a pregnant women need a doctor or hospital. Then, this women taken to city in Australia to get medicine by social worker. And this problem made social workers try to make negotiation with Australian government policy to let illegal immigrants have a good life without a grating and they can take a service public in Australia cities, but it have not realizable yet. Although Australian government has given the budgets $1.2 billion to take care of illegal immigrants, but its not good influentially with illegal immigrants. Luckily, church in Australia make career to assist illegal immigrants and protect them. So the government can’t touch them, when an illegal immigrant stay in church, it make some social workers make a cooperation with the church to helping an illegal immigrant to get a good life “hidup layak” .
        In Indonesia, as we know the social problem is complex too, there are poverty and unemployment that has an impact to society. Any job openings really little, it make crimes anywhere. But for solving that problem, government has provided health assurance “JAMKESMAS”, welfare rices, social assist, some scholarship for poverty, etc. It’s just not maximum to help society. If the social services still not maximum, we have to learn about policy which organize about social problem. The same problem with Australia about controversial policy, so social workers should to knowing, learning, criticized about that policy. And then, social workers can change the social condition as a whole.
            Listening to discussion in this workshop, we as social workers need to remember that we need to see social problems more widely. Social workers do not work only in social area, but in the larger area. Social workers need to utilize skills and experience in management, education, research, policy development, politics and economic, to help our clients better.

Sikap Prodi IKS terkait Perpanjangan Waktu KRS

Kepada mahasiswa IKS yang kami banggakan.

Mengakses SIA sesungguhnya bukan hal yang gratis. Mengakses SIA bukan hanya persoalan "ada WiFi gratis di kampus. Tidak. Mengakses SIA saat ini yang pasti mengorbankan waktu (kalau pun WiFinya gratis), mengorbankan uang (kalau harus di warnet atau akses pribadi di rumah), mengorbankan biaya transportasi (kalau harus ke kampus atau ke warnet), mengorbankan rasa malu (kalau harus numpang akses internet di kelurahan atau rumah om)...


Maka solusi "memperpanjang waktu input" kedua kalinya (seperti dalam surat di atas) adalah kebijakan tidak empatik. Kebijakan yang mengabaikan semua pengorbanan yang telah kalian keluarkan.

Oleh sebab itu maka kami berpendapat berikut:
  1. Bila kalian masih memiliki waktu lebih, biaya lebih, kesabaran lebih, untuk mengakses SIA, kalian boleh mencoba terus input KRS
  2. Bila kalian tidak lagi memiliki semua kelebihan itu, kalian boleh berhenti mengakses SIA. Silakan input mata kuliah kaliah melalui form yang telah kami sediakan. Kami akan meminta UIN, apa pun caranya, untuk memastikan hak kalian untuk mengikuti kegiatan akademik semester genap tetap terlindungi.
Secara teknis, untuk memilih opsi kedua, silakan daftarkan matakuliah/KKN/Skripsi yang hendak Anda ambil di form berikut. Mohon maaf kalau merepotkan Anda dengan isi form untuk ketiga kalinya. Sebab, kita memerlukan data terbaru dan tervalid sekarang. Silakan klik link berikut:



KRONOLOGI SIKAP PRODI IKS
Sikap terakhir ini tidak muncul tiba-tiba. Kita sudah melakukan berbagai upaya untuk merespon masalah mahasiswa demi kepentingan mahasiswa. Kronologi sikap dapat diringkas sebagai berikut:
  1. Menghimbau untuk bersabar, tidak menyalahkan PTIPD,  dan mengundang partisipasi untuk mendata problem mahasiswa lewat Posko IKS Peduli (cek sini)
  2. Mengirimkan surat usulan revisi kalender akademik (lihat foto di bawah).
  3. Mengirimkan surat agar UIN tidak memperpanjang lagi dan mengambil sikap bertanggungjawab dengan memfasilitasi input data KRS terpusat (lihat foto di bawah).
  4. Sikap terakhir hari ini.

Exploring Cross-Cultural Social Work Bersama Prodi IIS, Prodi IKS dan the University of Sidney


Rabu, 3/2/20016, para mahasiswa Prodi Ilmu Kesejehateraan Sosial mengikuti Student Workshop yang diselenggarakan oleh atas kerjasama Prodi IKS, Prodi IIS (Islamic Interdisciplinary Studies) Pascasarjana UIN, dan Faculty of Education and Social Work, The University of Sydney Australia. Acara ini mengusung tema “Exploring Cross-cultural and Social Work”. Bertempat di hall Pascasarjana UIN pada hari Rabu (3/2). Kegiatan ini diikuti oleh 35 peserta yang terdiri atas 9 mahasiswa Prodi IKS, 10 mahasiswa IIS, 10 mahasiswa Australia, 4 dosen dari UIN serta 2 dosen dari Australia.

Acara diawali dengan presentasi Prof. Fran Waugh. Dalam presentasinya, Fran menjelaskan intergrasi antara pendidikan dengan social work. Menurutnya, pendidikan adalah jangkar dari social work. Beliau juga menegaskan bahwa teori merupakan acuan ketika melakukan praktik lapangan (misalnya dalam kasus PPS di Prodi IKS UIN). Dari pengalaman praktik lapangan, pekerja sosial belajar tentang prinsip-prinsip dalam pekerjaan sosial. Praktik lapangan juga bertujuan untuk mengintegrasikan antara teori dan praktik.

Salah satu peserta, Nur Kholida menceritakan pengalamannya selama praktik. Dia mengatakan bahwa teori yang diajarkan tidak selamanya sesuai dengan praktik di lapangan. Menanggapi pertanyaan itu, Margareth menjelaskan bahwa untuk mengatasi masalah tersebut dibutuhkan skill sebagai seorang peksos. Semakin banyak pekerja sosial mempelajari teori dan semakin banyak pengalaman yang didapat, maka pekerja sosial akan mampu mengatasi tantangan dalam praktiknya.

Pada sesi berikutnya, peserta diberi kesempatan untuk mempresentasikan social work di Indonesia dan social work di Australia. Perwakilan dari Prodi S2 IIS, M. Najib mempresentasikan paradigma intergrasi dan interkoneksi UIN Sunan Kalijaga dan hubungan Islam dengan Social work. Dalam tesis yang sedang dikerjakan, dia melihat bahwa prinsip-prinsip peksos yang dikemukanna oleh para tokoh kesejahteraan sosial seperti Zastrow dinilai masih terlalu umum. Menurutnya, realita di lapangan masih memerlukan prinsip peksos yang lebih spesifik, dan nilai keislaman bisa menjadi salah satu alternatifnya.

Presentasi berikutnya disampaikan oleh perwakilan dari Prosi IKS, M. Aufal Marom. Dalam prsentasinya, ia menampilkan short movie “The Journey of a Social Worker” yang secara singkat menggambarkan profil Prodi IKS. Selain itu, Aufal menceritakan pengalamannya selama praktik pekerjaan sosial. Menurutnya dalam menghadapi klien seorang peksos harus menempatkan dirinya sebagai teman, agar klien merasa nyaman saat dilakukan assessment. Dia menambahkan bahwa masyarakat belum familiar dengan peksos, sehingga ketika mengalami suatu permasalahan mereka cenderung lebih percaya kepada tokoh-tokoh masyarakat.

Menutup sesi presentasi, perwakilan dari mahasiswa Australia, Margot dan Elisa memperkenalkan kampus The University of Sydney kepada para peserta workshop. Dua mahasiswa Australia lainnya, Katie dan Olivia menceritakan pengalaman mereka saat praktik di lembaga-lembaga layanan sosial di Sydney. Katie melakukan praktik di lembaga Women’s Domestic Violence Court Advocacy Center (WDVCAC). Lembaga tersebut menangani kasus wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan menangani korban penelantaran. Sedangkan Olivia melakukan praktik di lembaga yang menangani kasus para pencari suaka di Australia. “Di Australia, para pencari suaka tersebut kami tangani dengan baik. Ada banyak relawan yang membantu, seperti dokter, perawat, pendeta dan lain-lain.”, jelas Olivia.

Student workshop seperti ini, sangat bermanfaat bagi mahasiswa Indonesia maupun mahasiswa Australia. “Ini adalah sebuah pengalaman yang menarik, kita bisa saling bercerita mengenai social work di kedua negara. saya sangat menikmati Indonesia. ini akan sangat membantu untuk study saya.” Ujar Jack Whitney mewakili teman-teman dari Australia. (EMI)

UPDATE INFO PEMBAYARAN UKT DAN INPUT KRS

Rabu, 03/02/2016

Selamat Pagi semua :)

Ada beberapa kabar penting terkait persiapan semester genap yang perlu Anda ikuti perkembangannya:

Pertama. Bagi yang belum berhasil bayar SPP/UKT. Anda diminta untuk secara manual ke loket salah satu bank yang ada di komplek Kopma UIN (belakang klinik) lalu menyerahkan kwitansinya ke PTIPD. Pengumumannya seperti ini::

Kedua, bagi yang belum input KRS dan hal yang terkait update KRS, hari ini, 3 Februari 2015, IKS mendapatkan giliran nanti sore pukul 14:45 - 16:45


Menurut informasi teman-teman Fishum yang mendapatkan giliran lebih awal, tanggal 2, SIA tetap mengalami masalah. Oleh karena itu, jika setelah pukul 16:45 Anda belum berhasil input/revisi KRS, silakan SEGERA mendaftarkan/mengadukan masalah Anda di sini: http:bit.ly/IKSmendengar2
Aduan yang masuk akan kita tindak-lanjti segera untuk memastikan Anda tidak dirugikan.

Demikian pengumuman ini disampaikan. Jangan lupa untuk ikut menyebar kabar ini ke teman-teman Anda.

Salam hangat!

Waiting for Your Story, Social Worker!



Kami berpandangan bahwa sebuah narasi besar menjadi bermakna karena narasi-narasi kecil. Ketika narasi besar diangkat, seringkali makna terdalam dari narasi tersebut tidak terangkat. Karena itu, ketika kami memutuskan untuk membuat Profil Prodi IKS, bukan narasi Prodi IKS yang ingin kami angkat. Prodi IKS ada "adalah untuk para mahasiswanya." Makna eksistensial Prodi IKS tergantung sepenuhnya kepada bagaimana Prodi IKS bermakna bagi para mahasiswanya.

Dengan motto mendidik sepenuh hati; bekerja memberi solusi, kami ingin 'narasi-narasi kecil' dalam proses kami mendidik, menemani, dan mengantarkan setiap pribadi mahasiswa IKS menjadi turunan dari komitmen mendidik sepenuh hati sehingga lulusan kami nanti menjadi pekerja sosial profesional yang berhati, yang tidak hanya bekerja untuk memberi solusi.

Film ini mengangkat kisah hidup Embun Nirwani, salah satu alumni IKS yang kini bekerja di Dinas Sosial Kota Yogyakarta. Embun hari ini berusaha menjadi pribadi yang bermakna bagi orang di sekitarnya. Kisah lalunya berjuang lolos dari masalah-masalah pribadi ketika kuliah dan tempaan didikan di Prodi IKS mendasari kekuatan pribadinya untuk menyelesaikan masalah masyarakatnya: sepenuh hati memberi solusi!

Dapatkah ia melakukannya? Nantikan film berikut ini ya.

DOKUMEN DOSEN


File-file Penting untuk Dosen Bisa diunduh di link berikut

    POSKO IKS PEDULI


    Semua keluhan, kami dengarkan.

    Kepada para mahasiswa Prodi IKS yang saya sayangi dan banggakan,

    Pertama, Prodi IKS UIN Sunan Kalijaga menyampaikan permintaan maaf atas segala masalah yang Anda alami dalam minggu-minggu ini. Kami sepenuhnya mengerti perasaan Anda, ketidaknyamanan Anda, dan bagaimana Anda semua telah sedemikian luar biasa bersabar dalam menghadapi masalah ini.

    Kedua, tanpa bermaksud cuci tangan, Prodi IKS hanyalah paku kecil dalam bangunan UIN Sunan Kalijaga. Segala masalah yang Anda hadapi pada dasarnya di luar kemampuan kami untuk bisa membantunya. Tetapi lewat media ini, saya ingin sampaikan komitmen sepenuhnya bahwa hak-hak akademik Anda akan kami lindungi.

    Ketiga, sebagaimana Prodi IKS, unit layanan PTIPD yang secara teknis menangani masalah ini juga bukan penanggungjawab penuh atas masalah kita. Mereka layaknya sebuah bajai tua yang dipaksa membawa 50 penumpang dari Tanah Abang berlibur di Puncak. Kalau ada yang tidak terangkut, kalau ada yang jatuh di perjalanan, kalau ada yang kehabisan nafas di dalam angkot, jangan salahkan sopir bajainya. Ia hanya orang suruhan. Jadi, tolong #SavePTIPD dan asetnya dan jangan melakukan tindakan anarki ke kantor mereka. Kalau saja saya bisa mengontak Pak Agung dan kawan-kawan, akan saya sampaikan dukungan penuh atas usaha mereka.

    Menimbang hal-hal tersebut, dibawah ini kami sediakan formulir PENGADUAN agar nama dan masalah Anda bisa kami identifikasi. Pengaduan yang masuk akan kami tindak lanjuti dengan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa Anda dapat mengikuti seluruh kegiatan akademik semester genap.

    Terimakasih atas kerjasamanya,

    Ketua Prodi IKS,
    Arif Maftuhin, M.Ag, M.A

    NB: jika HP Anda gagal menampilkan formulir, klik halaman ini langsung http://bit.ly/AyoMengadu

    Prodi IKS dan IPSPI Diskusikan RUU Pekerjaan Sosial


    Rabu, 20 Januari 2016, bertempat di ruang teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Prodi IKS bekerjasama dengan Pengurus Pusat Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia menyelenggarakan diskusi terkait Rancangan Undang-Undang Pekerjaan Sosial (RUU Peksos).

    Diskusi yang menghadirkan Tim Perumus RUU Peksos, yang diketuai oleh Nelson Aritonang dari STKS Bandung, dibuka oleh Kaprodi IKS UIN Sunan Kalijaga. "Prodi IKS sangat mengapresiasi kerjasama ini dan berharap bisa memberikan kontribusi yang signfikan dalam upaya menggolkan RUU ini menjadi UU. Sebab, dari segi materinya, dunia pekerjaan sosial sudah menunggu kehadiran UU ini," kata Arif.

    Sementara dekan Fakultas Dakwah yang diwakili wakil dekan bidang akademik, Lathiful Khuluq, Ph.D, juga melihat pentingnya undang-undang itu dari segi berlakunya MEA. "Kita memerlukan dukungan undang-undang agar para pekerja sosial kita bis aberkompetisi dengan baik di pasar tenaga kerja pekerjaan sosial."

    Menurut keterangan Dr. Sahawiah, yang mewakili IPSPI, acara yang diselenggarakan hari ini adalah sosialisasi pertama RUU Peksos di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia. Ia berharap, setelah di UIN Sunan Kalijaga, sosialisasi semisal juga bisa di selenggarakan di PT-PT lain. "Kita ingin semua stakeholder seia sekata. Jadi, kalau sewaktu-waktu dunia akademik dimintai masukan oleh DPR, suara kita sudah sama."

    Acara ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta dari berbagai elemen terkait dunia pekerjaan sosial. "Selain mahasiswa IKS, kami juga mengundang para alumni, para pekerja sosial, lembaga layanan sosial, dinas sosial, dan perguruan tinggi di Yogyakarta," kata Arin Mamlakah, ketua panitia.

    Bagi yang memerlukan naskah akademik dan RUU Pekerjaaan Sosial, dapat mengunduh langsung dan lengkap di bit.ly/RUUpeksos (***)

    Prosedur Pembayaran SPP

    Prodi IKS menerima pertanyaan tersebut dari salah satu mahasiswa baru, hehehe... sudah hampir setengah tahun di sini masih baru juga ya :)

    Terimakasih atas pertanyaannya. Untuk mahasiswa tersebut dan mahasiswa baru yang bingung soal cara membayar SPP, silakan unduh informasi dan petunjuk lengkapnya di link berikut:

    Laporan Audit Mutu Internal


    Prodi IKS, Jumat (15 Januari 2015), ikut menghadiri presentasi hasil-hasil temuan audit mutu internal periode Nopember 2015. Dalam presentasi itu, Fakultas Dakwah tercatat mendaptkan 1 temuan mayor dan 5 temuan minor. Temuan itu terkait dengan administrasi SAP, pengukuran capaian sasaran mutu, tracer study, dan data pengabdian.

    Melihat hasil temuan itu, Kaprodi IKS berkomitmen untuk memperbaiki administrasi pengajaran dan pendidikan mulai semester genap depan. "Saya baru belajar menjadi Kaprodi pada saat semester gasal kemarin, dan kebetulan kontrol juga tidak berjalan dari fakultas," kata Kaprodi IKS selepas menghadiri kegiatan tersebut.

    IFSW-AP International Learning Forum di Jakarta

    Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia, Kemensos RI dan International Federation of Social Worker Asia Pacific (IFSW-AP) menyelenggarakan "Internasional Learning Forum" dengan tema "Psychosocial Support in disaster situation : The roles and skills of social worker in Asia Pacific".
    Acara ini diselenggarakan dari tanggal 12-14 Januari 2016 di Pusdiklat Marguna, Jakarta  dan dihadiri oleh 60 peserta dari Indonesia, Malaysia, Jepang, Bangladesh, India, dan  Filipina. Hasil dari acara ini adalah berbagai paper terkait psikososial yang akan diterbitkan dalam jurnal.
    Selain itu acara juga dimanfaatkan oleh para peserta untuk penguatan skill dan memperluas jaringan.
    Peserta mengunjungi lokasi penggusuran Kampung Pulo dan rusunawa di DKI dan lokasi korban longsor di Bogor.
    Prodi IKS diwakili oleh Pak Asep Jahidin (dosen) dan Hani Rofiqoh (alumni). Asep mempresentasikan makalah berjudul Psychosocial support to victims of disasters in Yogyakarta sedangkan Hani Rofiqoh menyajikan makalah Post Disaster stress Management through social prejudice by social workers.

    Didukung PERTUNI, Prodi IKS bekali Softskill Mahasiswa Difabel

    Gilang, Mahasiswa IKS 2010, tampil menghibur peserta

    Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga, bekerjasama dengan PLD (Pusat layanan Difabel), didukung oleh DPP Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) dan NIPPON Foundation menyelenggarakan Pelatihan Soft Skill bagi para alumni dan mahasiswa difabel selama empat hari, dari tanggal 28-31 Desember 2015. Kegiatan berlangsung di Gedung PAU UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

    "Acara ini adalah tindak lanjut dari FGD yang diselenggarakan pada bulan Oktober lalu. Terkait akses kerja dan karir para alumni difabel, FGD menemukan tiga hal: Pertama, difabel tidak cukup memiliki kepercayaan diri untuk terjun ke dunia kerja. Kedua, kalau sudah mendapatkan pekerjaan, ada banyak kasus difabel tidak kerasaan dan meninggalkan pekerjaannya. Besar kemungkinan, hal ini terjadi karena mereka tidak mendapatkan akomodasi yang layak. Ketiga, menurut pengalaman, lebih baik bagi difabel untuk wirausaha daripada melamar pekerjaan. Sebab, dengan usaha sendiri maka ia terhindar dari segala masalah terkait aksesibilitas dan mobilitas di kantor atau tempat kerja," kata Arif Maftuhin dalam sambutannya mewakili Prodi IKS dan PLD UIN Sunan Kalijaga.

    "Tiga temuan tersebut lalu kita tidak lanjuti dalam tiga sessi utama dalam pelatihan soft skill kali ini. Pertama, sessi pendadaran mental untuk memotivasi alumni difabel agar percaya diri dan mandiri. Kedua, sesi pelatihan advokasi agar difabel mampu memperjuangkan kepentingannya. Dan ketiga, sesi wirausaha agar difabel mengenal dan berani memulai wirausaha," lanjut Arif.  Tiga fasilitator yang berkompeten di masing-masing bidang diundang untuk mendampingi para peserta.

    "Pertuni dan Nippon Fondation tahun ini menyelenggarakan pelatihan softskill di dua tempat, Jakarta dan Yogyakarta. Kedua kota ini menjadi contoh untuk pengembangan program semisal di kota lain," kata Aria Indrawati, ketua DPP Pertuni yang hadir langsung untuk mendampingi kegiatan ini selama empat hari di Yogyakarta.

    Selain digembleng dengan berbagai pengetahuan dan skill di kelas, kegiatan ditutup dengan field trip. Para peserta diajak berkunjung ke Pusat Rehabilitasi Yakkum untuk mendengar secara langsung pengalaman-pengalaman lapangan di dunia kerja untuk para difabel. Yakkum memiliki program dan pengalaman yang bisa membantu peserta melengkapi apa yang mereka pelajari di kelas bersama para fasilitator.***

    Mahasiswa IKS Kuliah Lapangan "Kampung Siaga Bencana"

    Pengarahan dari Tim tagana Dinsos

    Hari ini (19/12/2015), para mahasiswa yang mengambil mata kuliah Manajemen Bencana melaksanakan perkuliahan langsung di lapangan, dari jam 08.00 - 15.00  di Kelurahan Gedongkiwo, Mantrijeron Kota Yogyakarta. Acara ini terselenggara berkat kerjasama Prodi IKS dengan Tim Tagana Dinsos dan Kampung Siaga Bencana Gedongkiwo. Berikut ini adalah foto-foto saat berlangsungnya kegiatan kuliah yang seru ini.


    Kampung Siaga Bencana (KSB) Gedongkiwo
    Meninjau Lumbung Sosial KSB
    Asesmen Mitigasi Bencana

    Simulasi assessment mitigasi banjir di wilayah jalur Sungai Winongo




    Workshop Refreshing Program Magang

    Gambar atas, dari kiri-kanan: Bu Witri (Save the Children), Pak Asep dan Pak Arif (IKS), dan Bu Supartini (Dinsos), saat penutupan. Gambar Bawah: Suasana Workshop
    Bertempat di Ruang Sidang IV Rektorat Lama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) dan Save the Children kembali mengadakan Training Good Parenting dan Permanency Planning. Kegiatan training yang dikemas dalam Workshop Refreshing Program Magang ini ditujukan untuk 12 mahasiswa dan alumni magang dari Prodi IKS. Mereka magang untuk kegiatan "Pusat Dukungan Anak & Keluarga" (PDAK) yang dikeola Save the Children. Dalam program kerjasama ini mahasiswa dan alumni IKS direkrut sebagai "caseworker" yang langsung menangani kasus-kasus klien anak.

    Kegiatan ini merupakan salah satu perwujudan dari misi Prodi IKS untuk menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial sekaligus bekerjasama dengan lembaga stakeholder. MoU Prodi IKS dan Save the Children dalam kegiatan PDAK sudah dimulai sejak bulan Februari 2015.

    Workshop yang diselenggarakan selama dua hari ini, Kamis dan Jumat, 10 – 11 Desember 2015 ini menghadirkan narasumber Dr. Supartini dari Balai Diklat Kemensos dan Asep Jahidin, dosen Prodi IKS. Acara dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 16.00 WIB. Kegiatan juga dihadiri oleh Rose Merry, Program Officer Families First Save the Children Jakarta.

    Secara bergantian, selama dua hari, kedua narasumber tersebut berbagi pengalaman dan cerita sekaligus mengumpan diskusi ke para peserta terkait isu permanency planning dan good parenting yang menjadi konsep penting dalam program deinstitusionalisasi yang menjadikan keluarga sebagai tempat terbaik untuk pengasuhan kepada anak.

    Di sesi penutupan, Kaprodi IKS Arif Maftuhin menyinggung perlunya kerjasama penelitian sebagai bentuk tanggung jawab akademik kampus. Penelitian yang dimaksud adalah penelitian yang berangkat dari pengalaman pengelolaan kasus atau best practice penanganan kasus anak-anak. "Di belahan dunia lain, hal-hal seperti yang kita lakukan ini ditulis dan dipublikasikan di jurnal ilmiah. Kita, seringkali, hanya lewat saja tak terekam dan terpublikasikan."

    Mumpung Ada Bule: Launching IKS English Club

    25/11/2015
    Melepas para tamu mahasiswa Western Sydney University, keluarga besar mahasiswa IKS menggelar acara perpisahan sekaligus launching IKS English Club. Acara ini full kemeriahan walaupun harus berpindah waktu (karena benturan dengan kampanye pemilu mahasiswa) dan tempat dari Taman dakwah ke Ruang Teatrikal akibat hujan deras yang tak kunjung usai.

    Kemeriahan sore itu diawali dengan pementasan lagu-lagu ceria oleh PLD Band yang divokali Chaerizanisasi, mahasiswa IKS angkatan 2013. Acara dilanjutkan dengan kesan-pesan yang menampilkan para 'bule' dari Australia. Sesi penuh canda ini dipandu oleh duet Azza-Roma. Roma yang naksir berat Mona sempat tanya, "Apakah selama di UIN Mona pernah ketemu cowok ganteng?" Pertanyaan yang diajukan dalam bahasa Indonesia itu diterjemahkan oleh Ofal (mahasiswa IKS 2010) dalam bahasa Inggris. Mona, tak mau hanya dikerjain di panggung, lantas menjawab, "Only two: you and him" sambil tangannya menunjuk ke Roma, yang langsung pingsan mendengar pujian itu, dan Ofal.

    Acara dilanjutkan dengan testimoni semua bule yang satu per satu menyatakan kepuasannya dengan program AsiaBound dan benar-benar mengubah persepsi mereka tentang Indonesia.

    Launching IKS English Club dilakukan oleh Kaprodi IKS yang menandai berdirinya klub bahasa Inggris Mahasiswa IKS ini. Klub dibentuk untuk mendorong mahasiswa IKS agar lebih siap dalam pergaulan global.

    Setelah itu, giliran Yunda dan Jeha yang tampil menghibur penonton. Acara ditutup dengan foto-foto bareng. Komlit, mulai dari foto berdua sampai selfie rame-rame.

    Popular Posts