Navigation Menu

Showing posts with label Alumni. Show all posts

Waiting for Your Story, Social Worker!



Kami berpandangan bahwa sebuah narasi besar menjadi bermakna karena narasi-narasi kecil. Ketika narasi besar diangkat, seringkali makna terdalam dari narasi tersebut tidak terangkat. Karena itu, ketika kami memutuskan untuk membuat Profil Prodi IKS, bukan narasi Prodi IKS yang ingin kami angkat. Prodi IKS ada "adalah untuk para mahasiswanya." Makna eksistensial Prodi IKS tergantung sepenuhnya kepada bagaimana Prodi IKS bermakna bagi para mahasiswanya.

Dengan motto mendidik sepenuh hati; bekerja memberi solusi, kami ingin 'narasi-narasi kecil' dalam proses kami mendidik, menemani, dan mengantarkan setiap pribadi mahasiswa IKS menjadi turunan dari komitmen mendidik sepenuh hati sehingga lulusan kami nanti menjadi pekerja sosial profesional yang berhati, yang tidak hanya bekerja untuk memberi solusi.

Film ini mengangkat kisah hidup Embun Nirwani, salah satu alumni IKS yang kini bekerja di Dinas Sosial Kota Yogyakarta. Embun hari ini berusaha menjadi pribadi yang bermakna bagi orang di sekitarnya. Kisah lalunya berjuang lolos dari masalah-masalah pribadi ketika kuliah dan tempaan didikan di Prodi IKS mendasari kekuatan pribadinya untuk menyelesaikan masalah masyarakatnya: sepenuh hati memberi solusi!

Dapatkah ia melakukannya? Nantikan film berikut ini ya.

Didukung PERTUNI, Prodi IKS bekali Softskill Mahasiswa Difabel

Gilang, Mahasiswa IKS 2010, tampil menghibur peserta

Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga, bekerjasama dengan PLD (Pusat layanan Difabel), didukung oleh DPP Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) dan NIPPON Foundation menyelenggarakan Pelatihan Soft Skill bagi para alumni dan mahasiswa difabel selama empat hari, dari tanggal 28-31 Desember 2015. Kegiatan berlangsung di Gedung PAU UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

"Acara ini adalah tindak lanjut dari FGD yang diselenggarakan pada bulan Oktober lalu. Terkait akses kerja dan karir para alumni difabel, FGD menemukan tiga hal: Pertama, difabel tidak cukup memiliki kepercayaan diri untuk terjun ke dunia kerja. Kedua, kalau sudah mendapatkan pekerjaan, ada banyak kasus difabel tidak kerasaan dan meninggalkan pekerjaannya. Besar kemungkinan, hal ini terjadi karena mereka tidak mendapatkan akomodasi yang layak. Ketiga, menurut pengalaman, lebih baik bagi difabel untuk wirausaha daripada melamar pekerjaan. Sebab, dengan usaha sendiri maka ia terhindar dari segala masalah terkait aksesibilitas dan mobilitas di kantor atau tempat kerja," kata Arif Maftuhin dalam sambutannya mewakili Prodi IKS dan PLD UIN Sunan Kalijaga.

"Tiga temuan tersebut lalu kita tidak lanjuti dalam tiga sessi utama dalam pelatihan soft skill kali ini. Pertama, sessi pendadaran mental untuk memotivasi alumni difabel agar percaya diri dan mandiri. Kedua, sesi pelatihan advokasi agar difabel mampu memperjuangkan kepentingannya. Dan ketiga, sesi wirausaha agar difabel mengenal dan berani memulai wirausaha," lanjut Arif.  Tiga fasilitator yang berkompeten di masing-masing bidang diundang untuk mendampingi para peserta.

"Pertuni dan Nippon Fondation tahun ini menyelenggarakan pelatihan softskill di dua tempat, Jakarta dan Yogyakarta. Kedua kota ini menjadi contoh untuk pengembangan program semisal di kota lain," kata Aria Indrawati, ketua DPP Pertuni yang hadir langsung untuk mendampingi kegiatan ini selama empat hari di Yogyakarta.

Selain digembleng dengan berbagai pengetahuan dan skill di kelas, kegiatan ditutup dengan field trip. Para peserta diajak berkunjung ke Pusat Rehabilitasi Yakkum untuk mendengar secara langsung pengalaman-pengalaman lapangan di dunia kerja untuk para difabel. Yakkum memiliki program dan pengalaman yang bisa membantu peserta melengkapi apa yang mereka pelajari di kelas bersama para fasilitator.***

Workshop Refreshing Program Magang

Gambar atas, dari kiri-kanan: Bu Witri (Save the Children), Pak Asep dan Pak Arif (IKS), dan Bu Supartini (Dinsos), saat penutupan. Gambar Bawah: Suasana Workshop
Bertempat di Ruang Sidang IV Rektorat Lama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) dan Save the Children kembali mengadakan Training Good Parenting dan Permanency Planning. Kegiatan training yang dikemas dalam Workshop Refreshing Program Magang ini ditujukan untuk 12 mahasiswa dan alumni magang dari Prodi IKS. Mereka magang untuk kegiatan "Pusat Dukungan Anak & Keluarga" (PDAK) yang dikeola Save the Children. Dalam program kerjasama ini mahasiswa dan alumni IKS direkrut sebagai "caseworker" yang langsung menangani kasus-kasus klien anak.

Kegiatan ini merupakan salah satu perwujudan dari misi Prodi IKS untuk menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial sekaligus bekerjasama dengan lembaga stakeholder. MoU Prodi IKS dan Save the Children dalam kegiatan PDAK sudah dimulai sejak bulan Februari 2015.

Workshop yang diselenggarakan selama dua hari ini, Kamis dan Jumat, 10 – 11 Desember 2015 ini menghadirkan narasumber Dr. Supartini dari Balai Diklat Kemensos dan Asep Jahidin, dosen Prodi IKS. Acara dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 16.00 WIB. Kegiatan juga dihadiri oleh Rose Merry, Program Officer Families First Save the Children Jakarta.

Secara bergantian, selama dua hari, kedua narasumber tersebut berbagi pengalaman dan cerita sekaligus mengumpan diskusi ke para peserta terkait isu permanency planning dan good parenting yang menjadi konsep penting dalam program deinstitusionalisasi yang menjadikan keluarga sebagai tempat terbaik untuk pengasuhan kepada anak.

Di sesi penutupan, Kaprodi IKS Arif Maftuhin menyinggung perlunya kerjasama penelitian sebagai bentuk tanggung jawab akademik kampus. Penelitian yang dimaksud adalah penelitian yang berangkat dari pengalaman pengelolaan kasus atau best practice penanganan kasus anak-anak. "Di belahan dunia lain, hal-hal seperti yang kita lakukan ini ditulis dan dipublikasikan di jurnal ilmiah. Kita, seringkali, hanya lewat saja tak terekam dan terpublikasikan."

Konferensi Pekerja Sosial Nasional 2015


Prodi IKS UIN sunan Kalijaga, Kamis (22/10/2015) menyelenggarakan Konferensi Nasional Pekerja Sosial. Kegiatan ini didasari pada pemikiran bahwa pekerjaan sosial adalah profesi pertolongan (helping profession) yang bertujuan untuk membantu meningkatkan keberfungsian sosial dengan cakupan obyek sasaran yang terentang mulai dari individu, kelompok, komunitas dan organisasi bahkan sistem dan kebijakan.

Aktivitas pekerjaan sosial bisa ditemukan di segala bidang, mulai dari setting industri, medis, koreksional (penjara), hingga manajemen bencana. Dapat dikatakan bahwa semua profesi yang berusaha meningkatkan kemampuan individu, kelompok, dan sistem sosial dalam memenuhi kebutuhan dasar, menjalankan peran sosial, dan menangani masalah sosial, bisa dikatakan sebagai "pekerja sosial", di mana pun wilayah kerjanya, baik di pemerintahan, Lembaga sosial, maupun Lembaga Swadaya  Masyarakat. Pekerjaan sosial tidaklah selalu identik dengan rehabilitasi dan pemerintah.

Namun sayangnya kesadaran akan realitas tersebut belum menjadi milik bersama para pekerja keadilan sosial, baik pekerja sosial di pemerintahan maupun aktivis di masyarakat, sehingga masing-masing bekerja dalam ruang lingkupnya sendiri dan perspektif masing-masing. Hal ini berdampak pada kurang maksimalnya pelayanan yang diberikan, dan kurang terpadunya penanganan masalah sosial.

Dalam rangka mengkaji dan meningkatkan wawasan, menyatukan visi, dan menguatkan sinergi jejaring  Pekerjaan Sosial dalam konteks keberlanjutan penyelenggaraan kesejahteraan sosial, maka Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga memandang penting menyelenggarakan Konferensi Nasional Pekerjaan Sosial dengan tema "Profesionalisme dan Sinergi Jejaring Pekerjaan Sosial  dalam Mewujudkan Masyarakat Kesejahteraan."

Dengan adanya konferensi ini diharapkan berbagai  gagasan praktis maupun teoritis terkait penguatan profesionalisme pekerja sosial dan model-model jejaring pekerjaan sosial dalam mendorong terciptanya sebuah masyarakat kesejahteraan (welfare society) bisa terhimpun.

Acara dibuka dengan pengayaan dan update perkembangan pekerjaan sosial di Indonesia dengan menghadirkan dua pembicara penting: Dr. Sahawiah (yang mewakili Ketua Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia), yang akan membahas "Profesionalisme  dan Sinergi  Jejaring  Pekerja Sosial dalam berbagai bidang praktek Pekerjaan Sosial", dan Rolianna Darawani Harianja (Pekerja Sosial RS Kanker Dharmais) yang akan menyajikan makalah "Best Practice Pelayanan Profesional dalam Pekerjaan Sosial: Antara Tugas dan Panggilan Hati"

Dalam penyajiannya, Dr. Sahawiah menyebutkan peran pekerja sosial yang semakin penting di masyarakat. "Dulu, pekerjaan sosial umumnya hanya di lingkup kementrian sosial dan seolah-olah pekerjaan sosial itu hanya terkait upaya-upaya di kemensos. Sekarang, ruang perannya semakin terbuka di luar dan kebutuhan terhadap tenaga peksos semakin meningkat." Bahkan, dalam banyak kesempatan, lowongan kebutuhan tenaga pekerjaan sosial sering tidak terpenuhi.

Sementara berdasarkan pengalamannya sebagai pekerja sosial dalam setting rumah sakit, Bu Anna menekankan pentingnya memperkenalkan profesi peerkajaan sosial di lingkungan-lingkungan yang belum tergarap. "Sedikit demi sedikit saya memperkenalkan apa yang bisa dilakukan oleh peksos di rumah sakit hingga akhirnya pekerjaann saya menumpuk dan overload. Sebab, semakin banyak pasien yang memebutuhkan penanganan peksos." Ia menceritakan bagaimana ia bekerja mulai dari jam 6:30 lalu tidak terasa sudah jam 15:30 sementara pasien semakin menumpuk. "Darmais itu rumah sakit kelas A dan jadi rujukan nasional. Jadi pasien kita berasal dari seluruh Indonesia dengan berbagai latar masalah sosial mereka." Kerja peksos dibutuhkan untuk menangani masalah sosial non-medis yang dibawa para pasien. "Misalnya, pasien miskin dari Papua yang tidak bisa membawa pulang jenazah anaknya, kita juga yang mengurus."

Setelah diskusi hangat dengan dua penyaji tersebut, aca dilanjtukan dengan FGD yang terbagi dalam dua tema: peningkatan profesionalitas pekerja sosial dan pengembangan jaringan pekerja sosial. Acara ditutup pada pukul 16.00 dengan sejumlah rekomendasi penting untuk IKS dan aosiasi pekerja sosial profesional.

FGD Akses Kerja untuk Alumni Difabel


Tahun ini, Prodi IKS mulai menghasilkan alumni difabel. Sebagaimana difabel lain, tantangan mereka adalah apa yang bisa mereka lakukan setelah lulus. Bekerjasama dengan Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia) dan Pusat Layanan Difabel, Prodi IKS menyelenggarakan Focus Group Discussion bersama para pemabngku kepentingan lapangan kerja difabel, dengan fokus dunia swasta.

Selain diikuti para alumni difabel, acara ini juga mengundang organisasi-organisasi difabel dan dunia usaha yang diwakili sektor perhotelan, swalayan, perusahaan swasta, dan perbankan.

Forum dibuka oleh Ketua Prodi IKS yang dalam sambutannya memperkenalkan tekad UIN untuk menjadi universitas inklusif. Ketua Prodi IKS juga menyatakan pentingnya mendengar dari pihak-pihak terkait tentang berbagai masalah difabel dan apa yang bisa dilakukan oleh masing-masing pihak untuk memastikan hak akses difabel ke lapangan kerja.

Setelah pembukaan, acara FGD dimulai dengan sessi pengayaan informasi yang menghadirkan Bpk. Jaimun dari Yakkum. Pak Jaimun yang lama melakukan pendampingan akses kerja untuk difabel menyatakan bahwa "Untuk saat ini, baik kalangan pengusaha maupun pemerintah sudah sangat mendukung. Masalahnya justru kesiapan para difabel sendiri..." Pak Jaimum menyajikan data yang menunjukkan bahwa pihaknya memiliki banyak sekali lowongan pekerjaan tetapi sedikit sekali difabel yang berminat.

Dalam sessi FGD, hanya saja, terungkap bahwa jenis pekerjaan yang ditawarkan dan disebutkan Pak Jaimun itu tidak sesuai dengan yang diharapkan para difabel. "Kerja-kerja seperti menjahit, montir, elektronik, itu kan membutuhkan banyak tenaga dan keterampilan khusus. Bagaimana mungkin kami tertarik dan melamar," kata salah satu difabel.

FGD sendiri menghasilkan beberapa poin penting dan klarifikasi karena apa yang dipandang 'demikian' oleh kelompok pengusaha, diklarifikasi oleh kelompok difabel. Misalnya, saat dikatakan bahwa difabel tidak kerasan di perusahaan, diklarifikasi bahwa bukan "manajemen" yang membuat tidak kerasan, tetapi kadang juga datang dari lingkungan kerja.

Beberapa poin penting kegiatan ini telah dicatat dan dan akan ditindaklanjuti baik oleh PLD maupun Prodi IKS untuk bis amenghasilkan alumni yang berkualitas dan kompetitif.



Pembekalan Calon Wisudawan Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Tiara Arsetasani, kedua dari kiri
Jumat (7/8/2015) para calon wiudawan Fakultas Dakwah dan Komunikasi mendapatkan pembekalan. Di antara wisudawan itu terdapat 20 orang calon wisudawan dari Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial. Wisudawati Prodi IKS, Tiara Arsetasani tampil sebagai pemegang IPK tertinggi di FDK dengan nilai rata-rata 3,86. Dalam kesempatan ini, Tiara dan empat wisudawan terbaik dari masing-masing jurusan juga mendapatkan penghargaan dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Dalam acara yang berlangsung di gedung teatrikal FDK tersebut, pembekalan khusus untuk memberikan gambaran bagi alumni FDK diberikan oleh Sudaryono, alumni FDK yang kini bekerja di Indonesiar.

Alumni


Lulusan adalah status yang dicapai mahasiswa setelah menyelesaikan proses pendidikan sesuai dengan persyaratan kelulusan yang ditetapkan oleh perguruan tinggi. Sebagai salah satu keluaran langsung dari proses pendidikan yang dilakukan oleh perguruan tinggi, lulusan yang bermutu memiliki ciri penguasaan kompetensi akademik termasuk hard skills dan soft skills sebagaimana dinyatakan dalam sasaran mutu serta dibuktikan dengan kinerja lulusan di masyarakat sesuai dengan profesi dan bidang ilmu.

Popular Posts