Navigation Menu

Showing posts with label Kabar dari Kantor. Show all posts

Waiting for Your Story, Social Worker!



Kami berpandangan bahwa sebuah narasi besar menjadi bermakna karena narasi-narasi kecil. Ketika narasi besar diangkat, seringkali makna terdalam dari narasi tersebut tidak terangkat. Karena itu, ketika kami memutuskan untuk membuat Profil Prodi IKS, bukan narasi Prodi IKS yang ingin kami angkat. Prodi IKS ada "adalah untuk para mahasiswanya." Makna eksistensial Prodi IKS tergantung sepenuhnya kepada bagaimana Prodi IKS bermakna bagi para mahasiswanya.

Dengan motto mendidik sepenuh hati; bekerja memberi solusi, kami ingin 'narasi-narasi kecil' dalam proses kami mendidik, menemani, dan mengantarkan setiap pribadi mahasiswa IKS menjadi turunan dari komitmen mendidik sepenuh hati sehingga lulusan kami nanti menjadi pekerja sosial profesional yang berhati, yang tidak hanya bekerja untuk memberi solusi.

Film ini mengangkat kisah hidup Embun Nirwani, salah satu alumni IKS yang kini bekerja di Dinas Sosial Kota Yogyakarta. Embun hari ini berusaha menjadi pribadi yang bermakna bagi orang di sekitarnya. Kisah lalunya berjuang lolos dari masalah-masalah pribadi ketika kuliah dan tempaan didikan di Prodi IKS mendasari kekuatan pribadinya untuk menyelesaikan masalah masyarakatnya: sepenuh hati memberi solusi!

Dapatkah ia melakukannya? Nantikan film berikut ini ya.

Raker Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Add caption

Selama dua hari (7-8 Oktober 2015), Fakultas Dakwah dan Komunikasi menyelenggarakan rapat kerja. Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi dan diberi pengantar penyegaran oleh Dr. Hj. Ida Rochani tentang pengembangan fakultas berbasis outputs dan outcomes. Acara dihadiri oleh segenap pimpinan fakultas, para pengelola prodi, perwakilan dosen, dan staf fakultas.

Dengan gaya humor, Bu Ida mengkritik sekaligus memberikan masukan konstruktif untuk bagaimana membangun layanan yang baik untuk costumer  (mahasiswa) di fakultas. Upaya itu bisa dari hal-hal sederhana seperti bagaimana menyapa costumer lebih baik. Kalau pegawai bank bisa ramah menyapa, "selamat siang, ada yang bisa kami bantu?", perguruan tinggi harus bisa lebih baik lagi. Kalau terminal saja sudah dijaga kebersihannya 24 jam dengan karyawan shift, mengapa PT tidak? Bu Ida menggarisbawahi pentingnya komitmen untuk berubah sebagai modal terpenting untuk meningkatkan mutu layanan fakultas.

Untuk sesi siang, acara dilanjutkan dengan review program-program 2015. Review dimulai dari WR2, dilanjutkan WR1, semua kaprodi, PTIPD, dan laboratorium. Para 'pemilik anggaran' umumnya mengeluhkan sulitnya prosedur keuangan untuk bis amengimplementasikan semua program. Dengan demikian, harus dimaklumi bila serapan anggarannya. kurang dari 30%. Sayangnya, dalam agenda reker, tidak disebutkan sesi untuk mengatasi masalah-masalah itu. Kegiatan review program 2015 akhirnya hanya jadi parade presentasi capaian anggaran.

Hari kedua diawali dengan penyegaran dari Dr. Nurmandi, direktur pascasarjana UMY. Mirip seperti bu Ida di hari pertama, ini adalah sesi sharing yang baik. Topik yang didiskusikan adalah penjaminan mutu. Sesi dimulai dengan pengalaman Pak Nur sebagai fellow di beberapa universitas Katolik dan bagaimana komitmen kita sering kalah dengan mereka. Pak Nur juga mendiskusikan tentang standar-standar yang perlu dicapai oleh prodi untuk memenuhi standar nasional maupun internaisonal.

Pak Nurmandi juga menawarkan tip mencari dana: (1) Kerjasama dengan donatur; (2) Kerjasama dengan alumni; (3) Program akademik dengan menggunakan nama orang.

Kalau direfleksikan ke prodi, ada beberapa hal yang kita masih lobang-lobang: (1) Data PDPT IKS, setelah dicek, ternyata perlu dipdate; (2) Perlunya update visi, misi; (3) Perlunya penataan adminsitrasi, karen abanyak dokumen yang tidak ada SK-nya; (4) Perlunya membuat manajemen yang baik bagi target-target tri-darma dosen. (5) Inovasi. (6) Pentingnya sistem informasi dan teknologi (7) RAAKL kita belum diarahkan untuk mendukung "target" menjadi universitas  research university. Misalnya, tidak ada anggaran untuk merekrut mahasiswa asing, tidak ada anggaran untuk menarik visiting professor, dan semisalnya. Malah, sistem anggaran kita membuat kita tidak leluasa memenuhi kebutuhan riil di lapangan.

Hari kedua dilanjutkan dengan diskusi tentang kegiatan 2016 yang sesungguhnya sudah tercantum di RKAAKL.

Pelantikan Sekprodi IKS

Hari ini (25/9/2015), Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi melantik sekretaris Prodi IKS UIN Sunan Kalijaga, periode antar waktu 2015-2019. Andayani, S.IP, MSW dipercaya untuk menggantikan Aryan Torrido, SE, M.Si yang mengundurkan diri karena melanjutkan studi S3 di Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta.

Andayani, alumni program Social Work di Mc.Gill University, Kanada sebelumnya pernah menjabat sebagai direktur Pusat Studi dan Layanan Difabel (PSLD) UIN Sunan Kalijaga (2007-2010), posisi yang juga pernah dipegang oleh ketua prodi IKS saat ini, Arif Maftuhin, M.A, yang menjabat pada periode 2013-201. Duet 'alumni'  Pusat Layanan Difabel ini diharapkan bisa membawa IKS lebih maju.

"Keduanya diharapkan dalam waktu dekat bisa mengawal proses akreditasi Prodi IKS dan menaingkat peringkatnya dari B ke A." Demikian salah satu pesan yang disampaikan oleh dekanFakultas Dakwah dan Komunikasi di acara pelantikan yang dihadiri oleh para pimpinan di lingkungan Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Sosialisasi Program Akademik untuk Wali Mahasiswa Baru 2015

Senin (31/8/015),sekitar dua ratus lebih orang tua/wali mahasiswa baru 2015 menghadiri “Sosialisasi Program Akademik untuk Wali”. Acara dihelat di Ruang Teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga, mempertemukan pimpinan FDK, pengelola prodi, dan wali mahasiswa.

Sosialisasi ini diharapkan bisa mendekatkan orang tua/wali mahasiswa dengan pihak Fakultas dalam bersama membimbing mahasiswa agar bisa menyesuaikan diri dengan suasana di kampus, belajar dengan nyaman dan lancar, aktif, menghindari hal-hal yang tidak perlu, dan dapat selesai kuliah tepat waktu.

Dekan FDK Dr. Nurjannah, M.Si. beserta jajaran dekanat bergantian menjelaskan mengenai permasalahan-permasalahan yang diutarakan wali mahasiswa. Pertanyaan tersebut antara lain seputar beasiswa, bidik misi, pergaulan mahasiswa, tata krama, sopan santun, organisasi, perkuliahan di UIN Sunan Kalijaga, administrasi, serta informasi akademik lainnya.

Setelah pertemuan di teatrikal, wali mahasiswa dibagi per prodi dan bertemu dengan pengelola prodi masing-masing. Untuk Prodi IKS, ada sekitar 50 wali yang hadir dan ditemui langsung oleh Ketua Prodi IKS di Ruang Kuliah 307. Ketua Prodi IKS menjelaskan berbagai hal terkait status prodi IKS, kompetensi mahasiswa IKS, jaringan yang dimiliki, hingga prospek alumni IKS.

Ketua Prodi IKS mengharapkan partisipasi dan kerjasama penuh para wali mahasiswa karena kesuksesan kuliah tidak hanya bisa digantungkan kepada prodi. Para wali diminta ikut aktif memantau anak-anak mereka dan Prodi IKS akan siapa melayani komunikasi 24 jam per hari bila diperlukan.

Dalam sesi tanya jawab, topik semisal biaya kuliah, hari kuliah, libur, dan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan ditanyakan oleh para wali mahasiswa. Acara ditutup tepat pukul 13.00.

Sejarah IKS

Delegasi Jurusan PMI ke McGill University, Canada (2004): Cikal bakal lahirnya IKS
Lahirnya Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) di Fakultas Dakwah adalah wujud dari pergulatan intelektual yang panjang, melibatkan banyak pihak, dan meramu berbagai tradisi Barat dan Timur. Ada tradisi yang harus dijaga. Ada kontribusi dari berbagai pihak di luar negeri. Ada pula sikap kritis terhadap perubahan. Kelahiran IKS tak bisa dilepaskan dari saudara tuanya, Jurusan pengembangan Masyarakat Islam (PMI) dan pergulatan sejarahnya. Sebab dari PMI-lah cerita IKS dimulai.

A. Berawal dari PMI 
Saat itu, memasuki usianya yang kedelapan, Jurusan PMI telah dan terus melakukan pencarian identitas dan positioning di dunia akademik. Sebab, sejak semula disadari bahwa pengembangan dakwah bi al-hâl dalam arti community development adalah hal baru di lingkungan Islamic studies dan belum memiliki body of knowledge yang mapan.
Dalam hal pencarian identitas dimaksud, Jurusan PMI mempunyai beberapa pilihan yang bisa ditempuh: (1) mencari jawaban dalam lingkungan Islamic studies; (2) keluar dari lingkungan islamic studies; atau (3) dengan meramu keduanya.
Semata-mata mencari dalam lingkungan Islamic Studies tentu bukan pilihan yang tepat. Dalam lingkungan Islamic studies yang didominasi oleh epistemologi bayâni, pengembangan masyarakat belum pernah menjadi disiplin ilmu. Serakan-serakan analisis sosial burhânî yang termuat dalam literatur Islam klasik, seperti dalam Muqaddimah Ibn Khaldun, selain langka juga belum pernah diakui sebagai anak kandung ilmu dalam keluarga keilmuan Islam. Sehingga, kalaupun bukan hal yang mustahil, menutup diri dalam tradisi Islamic studies bukan pilihan yang bijak.
Alternatif kedua, semata-mata mengadopsi tradisi ilmu pengembangan masyarakat dari luar Islamic studies juga bukan langkah yang bisa dibenarkan dari aspek aksiologis. Selain bisa kehilangan core normatif Islam, pengadopsian-mutlak justru menempatkan PMI pada posisi yang tidak penting, karena tidak menawarkan sesuatu yang baru dan khas.
Dengan demikian, pencarian identitas melalui jalan tengah perlu ditempuh: selagi terus mengumpulkan serakan-serakan teoritis dalam literatur Islam, PMI perlu terbuka dengan tawaran-tawaran dari luar.
Proses yang sudah ditempuh oleh PMI selama delapan tahun pencarian ini bisa digambarkan dalam empat tahap utama:
1 Tahap belajar dari PLS UNY.
2 Tahap Proyek IISEP yang memberikan kontribusi berupa:  Perkenalan dengan tradisi social work  Fasislitasi studi banding ke UI dan STKS dan UIN Syarif Hidayatullah  Perbandingan dengan Schools of Social Work di berbagai negara  Pergulatan identitas dengan Jurusan yang mirip (BPI)
3 Tahap Pembukaan Konsentrasi
4 Tahap Kelahiran Jurusan Kesejahteraan Sosial Islam

B. Belajar dari Banyak Pihak. 
Tradisi keilmuan yang pertama kali ditemukan oleh PMI dalam proses pencarian basis epistemologis adalah program Pendidikan Luar Sekolah di UNY. Ada dua alasan yang bisa dikemukakan. Pertama, faktor geografis, yang memudahkan PMI dalam mengakses program ini. Kedua, alasan yang lebih mendasar, PLS UNY menawarkan tradisi keilmuan yang — dalam penelaahan PMI saat itu — benar-benar bisa mengarahkan jurusan ini. Kalau PMI diberi mandat untuk mengembangkan masyarakat, PLS UNY memberikan cara: mengembangkan masyarakat melalui pendidikan. Dengan kata lain, perubahan sosial akan terjadi bila masyarakat terdidik.
Pendidikan seperti apa yang bisa menghasilkan perubahan sosial? Pendidikan yang, dalam bahasa Freirian dan banyak diacu oleh PLS, membebaskan —menggugah kesadaran masyarakat untuk berubah, memperbaiki, dan mengembangkan diri. Menurut pertimbangan Jurusan PMI waktu itu, “pendidikan masyarakat yang membebaskan” adalah pendekatan yang bisa dipinjam oleh Jurusan PMI dalam mengembangkan masyarakat.
Jurusan PLS juga tidak hanya menawarkan pendekatan, ia juga menawarkan basis epistemologis dan sekaligus wujud praktisnya dalam berbagai mata kuliah yang bisa diadopsi menjadi mata-kuliah mata-kuliah di PMI. Selama tahap awal berdirinya PMI, dari PLS UNY itulah kurikulum didesain dan mata kuliah ditentukan dan diajarkan kepada para mahasiswa PMI. Apalagi, PMI telah memiliki empat orang dosen yang berhasil lulus PLS UNY dengan keahlian masing yang bisa mewarnai Jurusan PMI.
Di tengah upaya Jurusan PMI menemukan pijakan-pijakan epistemologis dan aksiologis, mulai tahun 2002 Jurusan PMI dilibatkan dalam Proyek IISEP (Indonesian Islamic Social Equity Project) yang didanai oleh Departemen Agama RI dan CIDA (Canadian International Development Agency, milik pemerintah federal Canada).
PMI dilibatkan karena akses dan komitmen akademiknya dalam mengembangkan masyarakat. Proyek IISEP secara garis besar memberikan support di dua level: pengembangan kapasitas kelembagaan (institutional capasity building) dan pengembangan program-program pendampingan masyarakat. Di tingkat pengembangan kelembagaan, Proyek IISEP membantu jurusan PMI dengan membiayai studi lanjut S2 dan S3 di dalam (UI) dan luar negeri (McGill), penyelenggaraan workshop-workshop yang ditujukan untuk lebih meningkatkan kapasitas community development dosen-dosen PMI, evaluasi dan revisi kurikulum Jurusan PMI, studi-studi banding di dalam dan luar negeri yang terkait dengan pengembangan jurusan dan community development, maupun bantuan fasilitas administratif dan akademik.
Di tingkat pengembangan program-program pendampingan masyarakat, IISEP memberikan kontribusi yang berarti bagi Jurusan PMI dalam mendampingi secara langsung kegiatan di masyarakat lewat program desa mitra, penyelenggaraan workshop fundrising, dll.
Dalam konteks pencarian basis epistemologis, prosyek IISEP mempunyai kontribusi dalam membuka horizon-horizon akademis yang tak terbayangkan sebelumnya, terutama perkenalan dengan tradisi social work. Masuknya tradisi social work terbaca dengan jelas dari pengiriman studi lanjut S2 dan S3 social work ke McGill University (5 orang), ke Jurusan Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia (4 orang), dan adanya program IIS (Interdiscyplinary Islamic Studies) di Pascasarjana yang berkonsentrasi social work.
Paling penting dari semua itu, yang kemudian mempengaruhi identitas PMI, adalah sumbangan kurikulum Islamic Social Work yang dirancang oleh Prof. Bill Row, dekan School of Social Work di McGill University dalam perkembangan Jurusan PMI berikutnya, konsep Islamic Social Work usulan Prof. Bill Row waktu itu dapat dikatakan sebagai prototype of Social Work yang kelak menjadi basis berdirinya Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial di Fakultas Dakwah.
Selain tradisi social work yang dikembangkan di Barat, Kanada khususnya, proyek IISEP juga membuka perhatian PMI untuk belajar dari social work yang sudah diadopsi dan dikembangkan di Indonesia: Jurusan Kessos Universitas Indonesia dan STKS (Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial) di Bandung.
Dari Studi Banding ke Jurusan Kessos Fisip UI diperoleh informasi bahwa jurusan ini dibangun dengan mengacu pada perspektif pembangunan bidang sosial, sesuai dengan tantangan pembangunan di Indonesia, sehingga sasaran bukan bukan saja pada individu (mikro), namun juga kelompok dan keluarga (mezzo) dan komunitas dari organisasi (makro). Adapun Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung berorientasi pada upaya memajukan ilmu pekerja sosial yang diabdikan bagi penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan dalam mewujudkan kesejahteraan sosial.
Pergulatan dengan social work semakin intens ketika di akhir tahun 2003 McGill kembali mengirimkan salah seorang dosennya untuk mendampingi Jurusan PMI dalam mengevaluasi capaian dan merumuskan langkah selanjutnya. Dr. Jill Hanley saat itu dikirim oleh CIDA untuk mendampingi Jurusan PMI dalam membandingkan apa yang sudah diajarkan di PMI, rumusan Prof. Bill Row, rumusan para dosen UIN yang tengah kuliah di Kanada, dan program social work di Filipina.
Setelah acara itu sendiri, Jurusan PMI, yang terinspirasi oleh metode fasilitasi Dr. Jill Hanley, juga mengeksplorasi kurikulum dari berbagai belahan dunia lain, seperti India dan Inggris, lalu membandingkannya.
Dari studi komparasi tersebut diperoleh horizon yang benar-benar menggugah. Nama social work ternyata beragam: ada yang social welfare ada pula yang public policy and administration, tergantung kepada sejarah, sudut pandang, dan fokus kegiatan masing-masing —sehingga memberikan alasan yang kuat bagi bagi jurusan PMI untuk berani mengembangkan social work ala PMI UIN Sunan Kalijaga tanpa menutup proses perkembangan.
Jadi, ringkasnya, perjumpaan dengan social work ini menjadi tanda pergulatan epistemologis babak kedua. Setelah relatif banyak dipengaruhi oleh PLS, kini PMI mempunyai pilihan yang tak kalah menariknya: tradisi social work dengan sejarah yang panjang, dengan profesi yang sudah mapan, dan terpenting dengan body of knowledge yang selama ini tengah dicari-cari oleh Jurusan PMI.

C. Pergulatan Identitas dengan Jurusan Semisal 
Salah satu hasil penting lainnya yang memperoleh perhatian khusus dari PMI waktu itu adalah: fakta bahwa pengembangan masyarakat (community development) justru hanyalah salah satu dari beberapa bidang yang berkembang dalam tradisi social work. Selain community development, dalam social work juga berkembang clinical social work, bahkan yang kedua ini malah lebih populer di Indonesia daripada community development. Para dosen yang dikirm ke Kanada pun lebih baanyak praktik di bidang clinical social work daripada community development.
Dalam konteks inilah timbul pertanyaan, apakah dengan demikian Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) yang ada di Fakultas Dakwah adalah bagian dari social work? Pada awalnya, kemiripan clinical social work dengan Jurusan BPI seperti memberikan kartu kuning untuk mengevaluasi Fakultas Dakwah secara keseluruhan.
Dalam perbincangan dengan para kolega dari Fakultas Dakwah UIN Syahid sempat terdengar pula pendapat dari salah seorang bahwa social work di Barat sebenarnya sama dengan Fakultas Dakwah di Indonesia. Social work awalnya juga kegiatan missionaris, sama seperti Dakwah. Jadi, menurut pendapat ini, ada baiknya mengubah Fakultas Dakwah menjadi Fakultas Social work.
Jurusan PMI sendiri tak sepenuhnya sependapat dengan pandangan tersebut. Dakwah perlu dipertahankan sebagaimana ide awal didirikannya fakultas ini. Tetapi, seperti yang diyakin sejak semula, Dakwah perlu belajar dari pengalaman dan tradisi lain. Untuk mencari jawaban persoalan ini, dalam perumusan konsep dan kurikulum PMI, kemudian melibatkan Jurusan BPI.
Secara formal, Ketua Jurusan BPI dilibatkan dalam mengevaluasi konsep awal yang ditawarkan oleh Bill Row dan konsep-konsep lain yang diusung dari berbagai perguruan tinggi di luar negeri (mulai dari Amerika Serikat sampai India dan Filipina).
Salah satu temuan Jurusan PMI dari proses penelaahan materi social work di berbagai negara ini yang paling relevan untuk menjawab persoalan PMI dan BPI adalah sifat social work sebagai multidiciplinary studies. Dalam diskusi-diskusi dengan para kolega di Jurusan BPI, sering diperoleh masukan bahwa materi kuliah klinis ini kurang SKS, kurang tajam, dan seterusnya — bila dilihat dari sudut pandang BPI. Tetapi PMI juga memperoleh masukan dari kolega-kolega alumni STKS, bahwa materi yang dirancang sudah cukup bila untuk memenuhi kebutuhan seorang social worker. Demikian pula jika mengacu kepada rancangan Prof. Bill Rowe yang justru lebih sederhana daripada rancangan PMI.
Jadi, tampaknya BPI melihat aspek klinis social work dari sudut pandang yang sangat psikologis, sementara social work melihatnya sebagai bagian dari intervensi yang lebih besar. Artinya, BPI lebih mengacu kepada tradisi ilmu psikologi sementara social work menjadikan ilmu psikologi sebagai salah satu disiplin di antara banyak disiplin lain yang dipadukan (multidiciplinary) untuk mencari solusi bagi permasalahan sosial. Pada perkembangan terakhir, Jurusan BPI sendiri tampaknya semakin mantap untuk mengembangkan kompetensi dan kini telah berubah menjadi Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam.

D. Pembukaan Dua Konsentrasi 
Pergulatan panjang itu melahirkan kompromi dalam Jurusan PMI. PMI membuka diri sebagai titik temu dari berbagai macam tradisi keilmuan dan sekaligus mempertahankan identitas keislamannya. Sebagaimana PMI dulu tidak menjadi PLS, PMI pun tidak menjadi social work seperti yang ada di McGill. PMI menyerap keduanya dan memadukannya untuk menjawab pertanyaan pokok: bagaimana mengembangkan masyarakat dengan pendekatan dakwah?
Dalam kasus PLS, PMI sejak semula tidak berniat menjadi PLS Islam, namun akan mengambilnya dari aspek titik tekannya di community development. Secara teknis, menjadi social work seperti di McGill atau STKS juga tidak mungkin karena beban SKS di lingkungan UIN sudah diambil banyak untuk UIN (36 SKS!) dan Dakwah (14 SKS) dari 145 SKS untuk S1. Apa yang bisa dilakukan adalah mencari kompromi dari berbagai hal: kompromi epistemologis antara Dakwah, PLS, dan Social Work; serta kompromi teknis untuk mengakomodir SKS UIN dan Dakwah.
Membuka dua konsentrasi, waktu itu, adalah cara terbaik untuk menyiasati hal-hal di atas. Dengan sisa sekitar 43 SKS, tidak mudah untuk memenuhi kebutuhan menjadi social worker yang sekaligus menguasasi clinical social work dan community development. Apa yang bisa dilakukan adalah membagi keduanya dalam dua konsentrasi, sehingga berbeda dengan lulusan social work yang diberi pilihan hingga lulus untuk memilih bidang klinis atau community, mahasiswa PMI diharuskan memilih sejak awal untuk menjadi social worker yang spesialis klinis atau community developer.
Dengan strategi ini, PMI telah membuka dua konsentrasi studi untuk angkatan 2005 (meski belum dipisahkan ke dalam konsentrasi masing-masing karena belum memperoleh landasan hukum).
Dua konsetreasi ini adalah:
• Konsentrasi Pengembangan Masyarakat (KPM)
• Konsentrasi Kesejahteraan Sosial (KKS)

E. Lahirnya Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial 
Pada akhirnya, setelah melalui proses ‘inkubasi’ dalam konsentrasi kesejahteraan sosial, Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial diresmikan lahir pada tanggal 20 Januari 2009, berdasarkan SK Dirjen Pendis Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor DJ.I/32/09.
Setelah resmi menjadi Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Prodi IKS menjadi program studi ilmu kesejahteraan sosial pertama di lingkungan PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam negeri) di Indonesia dan membuka babak baru integrasi ilmu-ilmu social work dengan tradisi keilmuan di Fakultas Dakwah khususnya.
Upaya integrasi itu dilakukan dengan berbagai upaya update ilmu pengetahuan keislaman maupun social work. Dalam hal pengembangan keilmuan keislaman, selain memperkuat sentuhan social work dalam mata kuliah ke-UIN-an, seperti al-Qur’an dan Hadits, upaya menegaskan pertemuan Islam dan social work itu dapat dibaca dari pengembangan mata-kuliah mata kuliah khas program studi ilmu kesejahteraan sosoail di UIN yang memberikan keunikan sekaligus dari mainstream kajian keislaman maupun mainstream ilmu kesejahteraan sosial di perguruan tinggi umum. Misalnya, di jurusan ini dikembangkan mata kuliajh Tafsir Ayat-ayat Kesejahteran Sosial, Hadits Kesejahteraan Sosial, dan Fiqih Sosial. Dalam tiga mata kuliah ini, tradisi Tafsir, Hadits, dan Fiqih direformulasi, diasah, dan dipadukan dengan isu-isu terkni dalam dunia kesejahteraan sosial.
Dalam bidang ilmu kesejahteraan sosial, selagi terus menyesuaikan dengan standar-standar komeptensi wajib yang menjadi kesepakatan Ikatan Pendidikan Pekerja Sosial Indoensia (IPPSI), Prodi IKS juga terus mengembangkan penelitian dan kajian yang lebih menjawab kebutuhan sosial lokal. Hal ini dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan berbagai instansi penyelenggara layanan sosial seperti rumah sakit, panti sosial, LSM, lembaga karitas keagamaan, yang dengan mereka para mahasiswa IKS mempertemukan langsung keilmuan yang mereka pelajari dengan kebutuhan riil di masyarakat.

Selamat Datang Mahasiswa Baru

Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial mengucapkan selamat datang kepada para mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga angkatan 2015/2016. Anda adalah angkatan ketujuh di prodi ini!

Kami sudah tidak sabara untuk bertemu dengan Anda karena Anda sudah memilih jurusan yang tepat. Prodi IKS yang bermotto Mendidik Sepenuh Hati, Bekerja Memberi Solusi  adalah sekolah kesejahteraan sosial pertama dan satu-satunya di lingkungan Perguruan Tinggi Agama Keagamaan Islam Negeri. Status sebagai yang pertama saja sudah memberikan keunggulan yang tak bisa dibandingi yang lain.

Status itu juga menjiwai kami untuk menjadi trend setter di dunia pendidikan pekerjaan sosial Islam di Indonesia. Kami terus berinovasi dan dengan kehadiran Anda di jurusan ini kami percaya kita bisa bersama-sama merintis jalan sukses bagi kesejahteraan Indonesia.

Popular Posts