Navigation Menu

Showing posts with label Kerjasama Internasional. Show all posts

Ini cara Anak Sapen dan Sydney Pisahan: Diskusi Bro!


Foto bersama Sebelum Berpisah
Oleh Teguh MU

Jumat (5/2/2016). Acara closing ceremony student workshop: ”Exploring Cross-cultural Social Work”, di hall pascasarjana UIN Sunan Kalijaga berubah menjadi forum diskusi dadakan. Sebanyak 30an peserta baik dari UIN maupun dari Sydney, saling bertukar pendapat mengenai penanganan permasalahan social. Pemicunya adalah presentasi penutup yang disampaikan oleh Mrs. Margareth.
Dalam presentasinya, Margareth memaparkan kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Australia terhadap para imigran gelap. Alasan ekonomi dan politik, menjadi alas an kuat yang mempengaruhi campur tangan pemerintah dalam mengintervensi para imigran. Di Australia, tidak semua warganya menerima keberadaan para pendatang ini. Sebagian orang menganggap para pengungsi (terutama yang berasal dari Negara konflik) dapat menimbulkan masalah baru. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah Australia adalah dengan mengirimkan para imigran tersebut ke pulau-pulau kecil disekitar wilayah perairan Australia.

Di pulau-pulau seperti Nauru dan Christmas Island, yang notabene merupakan Negara dunia ketiga. Tentu masih sangat kekurangan dalam hal sumber daya, baik alam maupun manusia. Menempatkan imigran di kedua pulau tersebut dianggap sebagai langkah ‘pembuangan’ secara halus. Center-center imigran yang tersedia pun dinilai masih kurang memadahi.

Menurut data dari asosiasi pekerja social Australia, ada sekitar 370 pengungsi yang berada di Nauru rawan terhadap tindak kekerasan. Pemerintah Australia seakan cuek dengan apa yang terjadi di Nauru dan center-center yang lain. Besarnya anggaran untuk memfasilitasi mereka menjadi salah satu factor lemahnya perhatian pemerintah terhadap para imigran. Pun dengan mengembalikan mereka ke Negara asal, juga butuh biaya yang besar.

Secara garis besar, Margareth menyimpulkan bahwa, sebagai seorang peksos, peksos jangan hanya terpaku pada tindakan pertolongan level mikro. Peksos juga harus berfikir tentang level makro. Kebijakan yang merugikan klien, merupakan bagian dari sesuatu yang harus diperjuangkan. Oleh karena itulah, sangat pentingt bagi seorang peksos, untuk mampu menganalisis suatu kebijakan, apakah kebijakan tersebut pro rakyat kecil ataukah justru menindas rakyat kecil.

Presentasi dari Margareth tersebut, mendapat respon dari salah satu peserta workshop. Nadjib, mahasiswa IIS UIN, berpendapat bahwa langkah yang dilakukan pemerintahan Australia dengan ‘menggantungkan’ nasib para imigran ini sebagai tindakan yang kurang etis. Nadjib juga mengungkapkan bahwa, baik Indonesia maupun Australia, sebenarnya memiliki kesamaan dalam penanganan imigran. Yakni sama-sama melihat dari aspek ekonomi dan politik, dengan mengesampingkan nilai kemanusiaaan.

Suasana diskusi semakin hidup setelah para peserta saling berbagi pengalaman saat praktik pekerjaan social di negaranya masing-masing. Dari diskusi ini, peserta saling memberi tips dan saran terkait kasus yang dihadapi selama di lapangan. Seperti kasus yang didampingi oleh Ekmil, mahasiswa semester 6 IKS ini mendampingi klien pengguna narkoba. Klien sudah merasa sangat nyaman dengan Ekmil, sehingga klien tidak mau didampingi oleh peksos lain. Menanggapi kasus tersebut, Katie menyarankan kepada Ekmil, agar ketika hendak melakukan intervensi, klien harus diberi pemahaman tentang tugas atau fungsi peksos dalam kasusnya. Peksos juga harus memiliki batasan-batasan tertentu agar kejadian semacam ini tidak terjadi.

A Note from the Student Workshop on Exploring Cross-Cultural Social Work



Exploring Cross-cultural Social Work- 
A Student Workshop by University of Sydney and UIN Kalijaga  
by Nur Kholidah

Yogyakarta (5/2/2016). The profession of social work developed with its unique emphasis on directly helping people as well as improving their environment. Social work deals not only with internal aspect of human condition but also with its external aspects. Social workers are able to help clients to receive needed medical, financial, groceries, educational services that improve their lives. Because social workersact as advocates by helping their clients to access the services from the government, their goals is  to help people become self-sufficient by only doing for people what they may be unable to do for themselves. Its look like our goal as students of social welfare (IKS) at UIN Kalijaga is helping people to help themselves.
            Social workers have to understand social problems in society. The problem in society is very complex. For example: poverty, social stratification, economic issues, public health, abortion, environmental racism, education and public schools, immigrant, work and occupations, ect.  According many social problem in society, students of social welfare already trained to finishing a social problem. So, this workshop be importantly for social work students discussing about social issue in Australia and Indonesia. The first, we have been talking about illegal immigrant in Australia which have a complex of social problem by Mrs. Margaret.
            The Australian government has a controversial policy in dealing with the refugees. The country is not reluctant to stop refugees' boat and make them return or restrain them in Nauru Island. The refugees' life is very heartbreaking, because they stay only on tent in warming area and all of them are locked up with a grating. Nauru island didn’t has a hospital, school, places of worship, a shop for their needed. So one day, there is a pregnant women need a doctor or hospital. Then, this women taken to city in Australia to get medicine by social worker. And this problem made social workers try to make negotiation with Australian government policy to let illegal immigrants have a good life without a grating and they can take a service public in Australia cities, but it have not realizable yet. Although Australian government has given the budgets $1.2 billion to take care of illegal immigrants, but its not good influentially with illegal immigrants. Luckily, church in Australia make career to assist illegal immigrants and protect them. So the government can’t touch them, when an illegal immigrant stay in church, it make some social workers make a cooperation with the church to helping an illegal immigrant to get a good life “hidup layak” .
        In Indonesia, as we know the social problem is complex too, there are poverty and unemployment that has an impact to society. Any job openings really little, it make crimes anywhere. But for solving that problem, government has provided health assurance “JAMKESMAS”, welfare rices, social assist, some scholarship for poverty, etc. It’s just not maximum to help society. If the social services still not maximum, we have to learn about policy which organize about social problem. The same problem with Australia about controversial policy, so social workers should to knowing, learning, criticized about that policy. And then, social workers can change the social condition as a whole.
            Listening to discussion in this workshop, we as social workers need to remember that we need to see social problems more widely. Social workers do not work only in social area, but in the larger area. Social workers need to utilize skills and experience in management, education, research, policy development, politics and economic, to help our clients better.

Exploring Cross-Cultural Social Work Bersama Prodi IIS, Prodi IKS dan the University of Sidney


Rabu, 3/2/20016, para mahasiswa Prodi Ilmu Kesejehateraan Sosial mengikuti Student Workshop yang diselenggarakan oleh atas kerjasama Prodi IKS, Prodi IIS (Islamic Interdisciplinary Studies) Pascasarjana UIN, dan Faculty of Education and Social Work, The University of Sydney Australia. Acara ini mengusung tema “Exploring Cross-cultural and Social Work”. Bertempat di hall Pascasarjana UIN pada hari Rabu (3/2). Kegiatan ini diikuti oleh 35 peserta yang terdiri atas 9 mahasiswa Prodi IKS, 10 mahasiswa IIS, 10 mahasiswa Australia, 4 dosen dari UIN serta 2 dosen dari Australia.

Acara diawali dengan presentasi Prof. Fran Waugh. Dalam presentasinya, Fran menjelaskan intergrasi antara pendidikan dengan social work. Menurutnya, pendidikan adalah jangkar dari social work. Beliau juga menegaskan bahwa teori merupakan acuan ketika melakukan praktik lapangan (misalnya dalam kasus PPS di Prodi IKS UIN). Dari pengalaman praktik lapangan, pekerja sosial belajar tentang prinsip-prinsip dalam pekerjaan sosial. Praktik lapangan juga bertujuan untuk mengintegrasikan antara teori dan praktik.

Salah satu peserta, Nur Kholida menceritakan pengalamannya selama praktik. Dia mengatakan bahwa teori yang diajarkan tidak selamanya sesuai dengan praktik di lapangan. Menanggapi pertanyaan itu, Margareth menjelaskan bahwa untuk mengatasi masalah tersebut dibutuhkan skill sebagai seorang peksos. Semakin banyak pekerja sosial mempelajari teori dan semakin banyak pengalaman yang didapat, maka pekerja sosial akan mampu mengatasi tantangan dalam praktiknya.

Pada sesi berikutnya, peserta diberi kesempatan untuk mempresentasikan social work di Indonesia dan social work di Australia. Perwakilan dari Prodi S2 IIS, M. Najib mempresentasikan paradigma intergrasi dan interkoneksi UIN Sunan Kalijaga dan hubungan Islam dengan Social work. Dalam tesis yang sedang dikerjakan, dia melihat bahwa prinsip-prinsip peksos yang dikemukanna oleh para tokoh kesejahteraan sosial seperti Zastrow dinilai masih terlalu umum. Menurutnya, realita di lapangan masih memerlukan prinsip peksos yang lebih spesifik, dan nilai keislaman bisa menjadi salah satu alternatifnya.

Presentasi berikutnya disampaikan oleh perwakilan dari Prosi IKS, M. Aufal Marom. Dalam prsentasinya, ia menampilkan short movie “The Journey of a Social Worker” yang secara singkat menggambarkan profil Prodi IKS. Selain itu, Aufal menceritakan pengalamannya selama praktik pekerjaan sosial. Menurutnya dalam menghadapi klien seorang peksos harus menempatkan dirinya sebagai teman, agar klien merasa nyaman saat dilakukan assessment. Dia menambahkan bahwa masyarakat belum familiar dengan peksos, sehingga ketika mengalami suatu permasalahan mereka cenderung lebih percaya kepada tokoh-tokoh masyarakat.

Menutup sesi presentasi, perwakilan dari mahasiswa Australia, Margot dan Elisa memperkenalkan kampus The University of Sydney kepada para peserta workshop. Dua mahasiswa Australia lainnya, Katie dan Olivia menceritakan pengalaman mereka saat praktik di lembaga-lembaga layanan sosial di Sydney. Katie melakukan praktik di lembaga Women’s Domestic Violence Court Advocacy Center (WDVCAC). Lembaga tersebut menangani kasus wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan menangani korban penelantaran. Sedangkan Olivia melakukan praktik di lembaga yang menangani kasus para pencari suaka di Australia. “Di Australia, para pencari suaka tersebut kami tangani dengan baik. Ada banyak relawan yang membantu, seperti dokter, perawat, pendeta dan lain-lain.”, jelas Olivia.

Student workshop seperti ini, sangat bermanfaat bagi mahasiswa Indonesia maupun mahasiswa Australia. “Ini adalah sebuah pengalaman yang menarik, kita bisa saling bercerita mengenai social work di kedua negara. saya sangat menikmati Indonesia. ini akan sangat membantu untuk study saya.” Ujar Jack Whitney mewakili teman-teman dari Australia. (EMI)

Catatan harian AsiaBound (8) Desa Wisata Brayut

Sabtu, 21/11/15
Agenda peserta AsiaBound hari ini, Sabtu (21/11) adalah kunjungan ke desa wisata Brayut. Setelah sebelumnya peserta berkunjung ke Museum Batik dan ke Kasongan untuk balajar membuat kerajinan tangan gerabah. Kali ini peserta belajar tentang karawitan, belajar membatik serta belajar tentang tarian tradisional Jawa, khususnya Yogyakarta. Ini merupakan salah satu ajang untuk memperkenalkan berbagai budaya khas di Indonesia. Karena tiap-tiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan tradisonal tersendiri.
Sesampainya di Brayut, pertama para peserta belajar karawitan. Karawitan merupakan seni suara daerah, baik vocal maupun instrumental. Karawitan sendiri dibagi menjadi 3, yakni Karawitan Sekar, Karawitan Gending dan Karawitan Sekar Gending. Karawitan Sekar merupakan salah satu bentuk kesenian yang dalam penyajiannya lebih mngutamakan terhadap unsur vocal atau suara manusia. Berbeda denga Karawitan gending yang lebih mengutamakan unsur instrumental atau alat music. Karawitan Sekar Gending merupakan perpaduan antara vocal dan instrumental.
Peserta terlihat menikmati alunan music yang keluar dari alat music tradisional Jawa ini. Selain itu mereka juga senang memainkan alat-alat music seperti gendang, gong, suling, kenong, kempul dan lainnya. Mereka sedikit tidak telah mengenal beberapa alat music tradisional Indonesia.
Setelah belajar karawitan, peserta belajar membatik. Batik merupakan khas dari Indonesia. batik Jawa terkenal karena ke khasan serta kesulitan dalam pembuatannya. Batik Jawa dibuat dengan goresan tangan serta terbuat dari pewarna alami. Peralatan membatik terdiri dari gawangan yang berfungsi sebagai tempat menggantung kain yang akan dibatik; bandul berfungsi untuk menjadikan kain mori tidak bergelantung oleh angina; wajan berfungsi untuk melelehkan malam yang digunakan untuk membatik; kompor untuk memanaskan wajan untuk melelehkan malam; taplak berfungsi untuk melindungi tubuh agar tidak terkena tetesan malam; saringan malam berfungsi sebagai saringan malam yang kotor agar bersih ssat digunakan membatik; canting sebagai alat untuk menggoreskan batik di kain; mori yang merupakan kain yang akan dibatik; lilin (malam) sebagai bahan untuk membatik; dhingklik sebutan untuk tempat duduk; dan yang terakhir pewarna alami yang terbuat dari bahan-bahan alami yang berwarna.
Ini merupakan pengalaman pertama peserta dalam membatik. Meskipun mengalami kesulitan saat proses membatik bahkan salah satu peserta, Roshaan terkena lilin panas. Namun mereka tetap menikmati dan melanjutkan proses mambatik di atas kain mori.
Setelah belajar karawitan dan membatik, mereka kemudian belajar tari tradisional. Salah satunya mereka belajar tari merak yang menggambarkan tentang kehidupan burung merak. Tata cara dan gerakannya diambil dari kehidupan dari kehidupan merak, yaitu menggambarkan bagaiman merak jantan memamerkan bulu ekornya untuk mearik perhatian merak betina. Tarian ini biasanya ditampilkan sebagai tarian pesrsembahan atau tarian penyambutan.
Meskipun mengalami kesulitan dalam mengikuti gerakan pelatih tari, namun mereka tetap antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka terkesan senang mempelajari kesenian tradisional Indonesia yang sangat beragam.

Catatan Harian AsiaBound 2015 (7) Field Trip Borobudur dan Mendut

(Kamis, 19/11/15)
Setelah melakukan kunjungan ke beberapa tempat yang berkaitan dengan politik serta keagamaan di Indonesia. Hari ini, Kamis (19/11) rombongan mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang berkitan dengan budaya serta spiritual. Menurut agenda, rombongan akan mengawali trip pertama dengan mengunjungi candi Mendut kemudian akan melanjutkan trip ke candi Bororbudur.
Candi mendut merupakan candi bercorak Budhha. Candi ini didirikan pada masa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam candi terdapat tiga arca, yakni arca Dhyani Budhha Wairocana diapit Boddhisatwa Awalokiteswara dan Wajrapani. Candi ini memang terbilang kecil, karena hanya ada satu bangunan candi.
Ada kejadian yang cukup menggelitik ketika rombongan berada di candi Mendut. Sebelum masuk ke candi, petugas keamanan telah menyampaikan bahwa rombongan tidak boleh foto dengan menggunakan baner di area candi kecuali di halaman sekitar candi. Saat tim dokumntasi akan mengambil foto di atas candi, dua buddies malah membentangkan baner. Alhasil petugas keamana pun marah-marah karena rombongan telah melanggar peraturan. Foto yang diambil pun segera dihapus karena dianggap illegal.
Sepulangnya dari Mendut, rombongan kembali melanjutkan trip ke candi Bororbudur. Ketika memasuki kawasan candi, peserta AsiaBound tertarik untuk mengelilingi sekitaran area candi dengan menunggangi gajah. Mereka terlihat antusias melihat pemandangan dari atas gajah.
Dengan ditemani tourguide dari kawasan candi, rombongan mulai manapakki dan mendengarkan dengan seksama penjelasan dari tourguide mengenai sejarah serta makna dari tiap-tiap sudut candi.
Tidak beda jauh dengan candi mendut, candi Borobudur merupakan candi yang bercorak Budhha. Menurut sejarah, candi mulai dibangun sekitar 770 masehi dan selesai sekitar 825 masehi. Boroubudur memiliki koleksi relief Budhha terlengkap dan terbanyak di dunia. Namun sayang, patung dan bangunan candi banyak yang mengalami kerusakan akibat dari gempa yang melanda Yogyakarta pada tahun 2006. Namun hal ini tidak mengurangi keindahan candi yang masuk kategori 7 keajaiban dunia ini.
Bangunan ini terdiri atas enam berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya tersapat 504 arca Budhha. Bangunan ini dibangun sebagai tempat suci untuk memulikan Budhha sekaligus sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Budhha.
Selain menjelaskan tentang sejarah candi, tourguide mengajak rombongan untuk melakukan gerakan Tai Chi di atas bangunan candi. Tai Chi merupakan seni bela diri “halus” Cina kuno. gerakan Tai Chi umumnya dilakukan dalam ritme lambat. Tai Chi selain berfungsi untuk menambah kekuatan, fleksibilitas, kesadaran tubuh dan konsentrasi mental, Tai Chi juga bisa meningkatkan kesehatan.
Diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini, para peserta lebih memahami tentang kebudayaan di Indonesia. tidak hanya mengetahui bangunannya, melainkan juga mengetahui sejarah serta manfaat dari monument-monumen yang menjadi ikon budaya Indonesia.

Catatan Harian AsiaBound 2015 (6) Kunjungan ke al-Munawwir dan Gereja Ganjuran

(Rabu, 18/11/15)
Rombongan AsiaBound 2015 beserta tim Buddies hari ini, Rabu (18/11) melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Krapyak serta ke Gereja Katolik Ganjuran. Dengan ditemani oleh Kaprodi IKS, rombongan mengawali kunjungan ke Ponpes Al-Munawir Krapyak. Kunjungan ini bertujuan untuk merubah mindset orang luar tentang Islam yang beranggapan bahwa segala hal tentang Islam berbau teroris. Setelah kembali ke Australia, diharapkan persepsi mereka tentang Indonesia dan Islam berubah, bahwa Islam bukan teroris.
Sesampainya di Al-Munawir, rombongan disambut oleh ketua pengurus pondok, As’ad. Dalam sambutannya, ia menuturkan bahwa Islam adalah agama yang toleran bukan seperti apa yang dipikirkan kebanyakan  orang, bahwa Islam adalah teroris. Hal ini dibuktikan dengan relasi yang baik antara pondok dan warga non-muslim yang bermukim di sekitar pondok. Kerukunan di tengah perbedaan tetap terjaga serta bukan penghalang untuk bersilaturrahmi antar sesama.
As’ad juga sedikit menyinggung tentang sejarah ponpes Al-Munawir. Al-Munawir sendiri berdiri pada tahun 1911 dan didirikan oleh K.H. Munawir bin Abdullah Rasyad. Beliau sempat menetap di Makkah sekitar 23 tahun lamanya.
Santri di ponpes ini tidak hanya berasal dari Indonesia, melainkan juga berasal dari Negara tetangga, Thailand dan Kanada. Para santri tidak hanya yang menetap di pondok, tapi ada juga “santri kalong” yang hanya mengikuti kegiatan pondok pada malam hari saja atau hanya mengaji saja. Kebanyakan para santri di al-Munawir adalah lulusan SMA. Berdsarkan penuturan pengurus, terdapat sekitar1700an santri di Al-Munawir.
Rombongan kemudian diajak berkeliling ponpes sembari melihat kegiatan para santri. Namun karena kunjungan berlangsung siang hari, kebanyakan santri sedang tidak berada di asrama. Kerana kebanyakn sedang sekolah atau kuliah.
Selepas kunjungan ke Al-Munawir, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Gereja Katolik Ganjuran. Gereja Ganjuran merupakan gereja yang memadukan antara agama dan kebudayaan Jawa. Ditandai dengan adanya candi yang berada di area gereja.
Sejarah gereja Ganjuran sebagaimana dijelaskan oleh salah satu pengurus gereja, Aris Dwiyanto, diawali oleh seorang awam bernama Smutzer. Beliau merupakan keturunan Belanda yang hidup pada zaman penjajahan. Sekitar tahun 1912, area gereja dulunya merupakan pabrik gula yang dikelola oleh Smutzer. Kemudian pada tahun 1920an beliau mulai memperkenalkan ajaran Katolik kepada penduduk pribumi. Baru kemudian pada tahun 1924, Smutzer membangun sebuah gereja sebagai tempat peribadatan.
Tahun 1927, Smutzer membangun prasasti yang berbentuk candi sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan karena bisnisnya berjalan lancar serta dapat diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar. Perkembangan penyebaran Katolik yang signifakan, menjadikan gereja Ganjuran sebagai Gereja yang mandiri (hirarki).
Penyebaran ajaran katolik didasari pada kebudayaan setempat. Tradisi Jawa sangat kuat dan bertahan sampai sekarang. Yesus dihadirkan dalam bentuk budaya Jawa di dalam gereja, patung Yesus bertahta di singgasana. Hal ini bertujuan agar masyarakat mudah memahami ajaran katolik melalui budaya Jawa. Anak-anak juga dilatih memainkan music tradisional Jawa, seperti gamelan di dalam gereja.
Kegiatan sosial juga tidak luput dilakukan oleh pangurus gereja. Biasanya pada akhir Juni, dilakukan upacara prosesi agung sebagai bentuk ucapan rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat-Nya. Upacara dan doa dibarengi dengan akasi sosial, seperti donor darah dan sebaginya. Upacara dilakukan dengan upacara dan doa bersama, baik dengan sesama katolik maupun non katolik. Doa dipimpin oleh pemuka agama masing-masing. Proses upacara dilaksanakan di area candi.
Kerukunan antar umat beragama sangat kental dan sangat toleran. Seperti yang diungkapkan Supriatno, bila ada perayaan ibadah agama lain, seperti Idul Fitri, para pemuka gereja datang untuk sekedr mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri. Selain itu bertujuan untuk menyambung silaturrahmi antar umat beragama.

Catatan Harian AsiaBound (5) Kunjungan ke KPU dan BAWASLU DIY


(Selasa, 17/11/15)
Setelah mendapatkan pembekalan serta mentoring dari para mentor dalam pembuatan essai, para peserta AsiaBound melakukan kunjugan ke Kantor Pemilihan Umum Daerah Istimewa Yogyakarta (KPU-DIY) serta ke kantor Badan Pengawas Pemilu (BAWASLU) DIY pada Selasa (17/11). Kunjungan dimaksudkan agar mereka lebih memahami tentang perpolitikan di Indonesia, serta tata cara pemilihan pemimpin melalui pemungutan suara.
Dalam kunjungan tersebut, para peserta disambut oleh ketua KPU DIY beserta jajarannya. Ketua KPU menjelaskan tentang sejarah serta perbedaan pemilihan umum di Indonesia pada tiap fase. Pemilu di Indonesia, terdiri dari 3 (tiga) fase, yakni fase pertama pasca-kemerdekaan di bawah pimpinan Soekarno sebagai presiden Indonesia pertama, fase kedua zaman Orde Baru (OrBa) di bawah pimpinan Soeharto,, dan fase ketiga fase reformasi-sekarang.
Berdasarkan penjelasan dari ketua KPU, di bawah rezim OrBa, pemilu diciptakan dalam konteks stabilitas politik. Pemilu sebagai salah satu rekayasa politik untuk mendukung pembangunan. Pengerucutan partai politik pun dilakukan pada rezim OrBa. Di mana hanya ada tiga partai politik yang diakui. Pemilu pada rezim ini dipandang sebagai pemilu yang tidak demokratis karena sejak awal pemilihan, sudah diketahui siapa yang terpilih. Pegawai Negeri Sipil (PNS) diarahkan untuk mrndukung parpol agar pemerintah menang dalam pemilu.
Tahun 98, terjadi krisis politik, yang berdampak pada runtuhnya pemerintahan Orde Baru. Runtuhnya rezim OrBa sekaligus melengserkan Soeharto sebagai Presiden RI. Kemudian pada tahun 99, diadakan pemilihan umum kembali. Namun, pemilu tahun 99 tidak ada hasil konkrit serta tidak menghasilkan kesepakatan, sehingga jabatan presiden RI digantikan oleh B.J Habiebie yang sebelumnya mnjabat sebagai wakil presiden.
Berawal dari pemilu 99, maka dibentuklah lembaga pemilihan yang independen, tetap dan stabil sebagaimana terdapat dalm amandemen UUD 1945 tentang pemilahn umum. Di mana anggotanya berasal dari anggota masyarakat, bukan darii pemerintah atau pun partai politik.
Tahun 2004, Indonesia pertama kali melaksanakan pemilihan presiden yang dipilih langsung oleh rakyat. Pemilu disilenggarakan oleh KPU di bawah pengawasan Bawaslu. Tahun 2009-2014 merupakan pemilu terbesar dan dilaksanakan secara serentak. Pemilu periode ini berjalan lancer meskipun dengan jumlah pemilih yang banyak.
Setelah berkunjung ke KPU, rombongan kambali melanjutkan perjalan menuju kantor bawaslu DIY. Bawaslu merupakan badan yang mengawasi proses berjalannya pemilu. Bawasluyang DIY sendiri memiki 3 pimpinan yang masing-masing memegang satu divisi. Muhammad Najib sebagai pimpinan umum Bawaslu DIY sekaligus sebagai ketua divisi pengawasan serta pencegahan, Sri Rahayu Werdiningsih yang memegang divisi hukum serta penindakan pelanggaran dan Bagus Sarwono yang memegang divisi Sumber Daya Manusia (SDM).
Tugas bawaslu tidak hanya mengawasi serta mencegah terjadinya kecurangan, melainkan juga memastikan pemilu berjalan lancar serta sesuai dengan aturan. Selain itu yang perlu diawasi adalah pemilih, pemerintah serta media untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Di Indonesia tidak ada sanksi yang diberikan bagi warga yang golput. Berbeda halnya dengan di Australia, bagi warga Negara yang golput akan didenda sebesar 8$ Australia.
Terdapat beberapa jenis pelanggaran dalam pemilu, di antaranya adalah pelanggaran administrasi berupa pelanggaran dalam hal prosedur dan tata cara pemilu, pelangggaran pelanggaran tindak pidana berupa politik uang (money politik) dan sengketa, serta pelanggaran kode etik, baik yang dilakukan oleh KPU dan Bawaslu. Jika KPU maupun Bawaslu melanggar kode etik, maka hal tersebut bisa diproses oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Misalnya terjdinya ketidaknetralan penyelenggara dalam pelaksanaan pemilu.


Catatan Harian AsiaBolund 2015 (4) Workshop tentang Politik Indonesia

(Sabtu, 14/11/15)
Para peserta AsiaBound selain melakukan kunjungan ke berbagai tempat dalam rangka understanding Indonesia, mereka juga memiliki tugas untuk  membuat essai tentang Indonesia. Sebelum mereka menulis essai, terlebih dahulu mereka diberikan pembekalan dan gambaran terkait tentang Indonesia serta perpolitikan di Indonesia melalui workshop yang diadakan di lantai satu Pusat Administrasi Universitas (PAU) UIN pada Sabtu (14/11). Dua pembicara dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta turut serta dalam acara ini, I Made Andi Arsana dan A Gaffar Karim.
Indonesia merupakan negara berdaulat dengan wilayah mencakup Sabang hingga Merauke. Namun terkadang Indonesia tidak memperhatikan wilayahnya yang terletak di pinggiran atau perbatasan. Akibatnya banyak wilayah yang diklaim oleh Negara tetangga. Misalnya saja kepulauan Natuna yang diklaim oleh Malaysia sebagai bagian dari wilayahnya.
Berdasarkan bahasan dari Made Arsana, wilayah laut territorial Indonesia sangat luas. Namun seringkali Negara-negara tetangga seperti Malaysia malah memperluas wilayah laut mereka dan melewati batas wilayah Indonesia. Selain wilayah perairan, pulau-pulau kecil tanpa ama dan tak berpenghuni di Indonesia juga menjadi sasaran empuk untuk diklaim oleh Negara lain.
Wilayah perairan Indonesia banyak dikuasai oleh Negara-negara asing, terutama wilayah perairan yang berbatasan langsung dengan laut Cina Selatan. Para nelayan Indonesia tidak diperbolehkan malaut di sana. Sedangkan nelayan Negara lain mencari ikan sampai melewati wilayah perbatasan. Pemerintah telah cukup tanggap dalam menangani permasaahan ini. Namun sampai saat ini permasalahan tersebut belum juga bisa teratasi.
Timor Leste atau Timor Timur dahulunya merupakan bagian dari wilayah NKRI. Namun akhirnya pada tahun 1999, Timor Timur resmi menjadi Negara yang independen dan secara otomaris bukan bagian dari NKRI lagi.
Perbedaan antara Indonesia dan Australia terbilang cukup banyak. Mulai dari sistem pemerintahan, banyaknya parpol yang berkuasa hingga wilayah kekuasaan. Di Indonesia system pemerintahannya presidensial. Sedangkan Australia system pemerintahannya adalah parlementer.
Saat ini memang perpolitikan di Indonesia sedang kacau. Di mana para petinggi dan elit politik saat ini sibuk dengan urusan dan kepentingan pribadi mereka. Mereka lupa bahwa mereka masih memiliki tanggungjawab terhadap seluruh warga Indonesia, khususnya mereka yang berada di perbatasan. Melalui pembekalan ini, dalam penulisan essai mereka akan didampingi oleh 3 mentor. Para mentor berasal dari dosen IKS, yakni Ulil Absor, M. Izzul Haq serta Andayani. Mereka akan didampingi oleh masing-masing mentor sesuai dengan tema yang mereka angkat.

Catatan Harian AsiaBound (3) Belajar Bahasa Indonesia

(Kamis-Jumat 12-13/11/15)
Setelah mengikuti serangkaian acara penyambutan serta campus tour, para rombongan AsiaBound mengikuti kegiatan kursus bahasa Indonesia tingkat dasar di Pusat Pengembangan Bahasa dan Agama (PPBA) UIN selama dua hari (11-12/11). Selama
Mereka terlihat semangat mempelajari bahasa Indonesia, meskipun mengalami kesulitan dalam melafalkan kata dalam Bahasa Indonesia. Namun, itu bukan penghalang mereka untuk tetap semangat belajar Bahasa Indonesia.
Pelajaran dimulai dengan greeting atau salam, perkenalan, kosa kata, angka, hingga praktik percakapan. Mereka terlihat senang dan menikmati proses pembelajaran ini. Mereka mengaku senang karena tutornya sanga baik dan lucu. Proses belajar berjalan lancar, meskipun sesekali mereka membuka kamus bahasa Indonesia ketika mengerjakan tugas.
“Gurunya sangat lucu dan menyenangkan. Aku senang diajar olehnya. Aku sangat senang bisa belajar bahasa Indonesia meskipun aku sedikit takut tidak bisa berbahasa Indonesia dengan lancar”, ujar Mona Hariri, salah satu peserta AsiaBound.
Mereka dibuat senyaman mungkin selama proses pembelajaran. Beragam permainan dibuat semenarik mungkin agar mereka tidak merasa bosan. Mulai dari perminan ular tangga hingga lempar bola. Namun permainan yang dibuat merupakan bagian dari proses pembelajaran.
Proses belajar serta praktik bahasa Indonesia tidak hanya dipraktikan dalam kelas, melainkan dipraktikan dalam kegiatan serta percakapan sehari-hari antara team Buddies dan para peserta. Proses pembelajaran formal di kelas yang terbilang singkat, bukan menjadi akhir bagi para mahasiswa ini dalam mempelajari bahasa Indonesia melainkan menjadi awal yang baik bagi mereka untuk memperdalam dan praktik bahasa.
Hal ini ditujukkan agar mereka bisa lebih mudah berkomunikasi dengan masyarakat serta mengetahu budaya Indonesia. Karena tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui tentang Indonesia, bukan hanya budaya, melainkan juga bahasa serta mengenal bagaimana masyarakat Indonesia yang terkanal ramah-ramah.
Pertemuan terakhir, mereka diminta untuk menuliskan kesan selama belajar bahasa Indonesia di PBBA. Peserta mengaku senang blajar bahasa Indonesia dan ingin mengajarkan bahasa Indonesia kepada teman-teman mereka ketika kembali ke Australia.

Catatan Harian AsiaBound (2) Campus Tour

Briefing Campus Tour di Depan Gedung PAU
Team Buddies dan Ketua Prodi (Kaprodi) IKS UIN menyambut kedatangan rombongan mahasiswa WSU di Pusat Administrasi Universitas (PAU) UIN pada Rabu pagi (11/11). Agenda pada hari pertama adalah tour campus UIN. Para peserta diajak untuk menjelajahi kampus UIN, mulai dari PAU, kampus Pasca, Pusat bahasa, masjid, perpustakaan, Student Center (SC), Pusat Layanan Difabel (PLD), dan fakultas-fakultas yang terdapat di UIN Sunan Kalijaga.
Campus tour di mulai dari sayap barat kampus UIN. Selama mengikuti campus tour, mereka sangat antusias untuk mengetahui tentang UIN. Saat memasuki masjid, mereka penasaran dengan kubah masjid UIN. Tidak seperti kubah masjid di Indonesia yang biasanya berbentuk bulat atau setengah lingkaran. Arif Maftuhin, selaku Kaprodi yang mendampingi para Buddies menjaleskan, bahwa pada zaman dahulu, pulau Jawa merupakan pusat kerajaan Hindu dan Budha. Kubah masjid diambil dari bentuk pura yang merupakan peninggalan kerajaan Hindu.
Selepas makan siang, campus tour dilanjutkan ke sayap timur kampus UIN. Perjalanan ke sayap timur melewati underpass, jalan yang aman dan nyaman bagi para pejalan kaki. Campus tour di sayap timur, dimulai dari panggung demokrasi (pangdem), tempat favorit para mahasiswa untuk demo dan berorasi menyampaikan aspirasi mereka.
Trip dilanjutkan ke SC, markas berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) serta organisasi mahasiswa. Para tamu mengunjungi markas UKM al-Mizan, UKM andalan UIN SuKa. Mereka mencoba memainkan alat music rebbana. Josh, memamerkan kamampuannya bermain drum. Josh merupakan salah satu dari peserta AsiaBound dari WSU.
Dari SC, rombongan menuju ke PLD. Di sana mereka berbincang-bincang dengan para difabel yang didampingi oleh para relawan. Difabel antusias menyambut para tamu. Salah satu dari difabel, Mega Matahari dengan spontan memeluk Mona Hariri. Sontak Mona kaget, tapi Mona denga mudah beradaptasi dengan Mega. Mega terlihat senang mendapat kunjungan dari para tamu.
Rombongan kembali melanjutkan tour ke kantor IKS. Kemudian melanjutkan tour ke Fakultas Ushuluddin kemudian ke perpustkaan universitas. Para tamu berkeliling di perpustaakan, mengunjungi ruang skripsi, Iranian corner, Arabian corner, serta Canadian corner. Salah satu dari tamu yang berasal dari Iran, penasaran dengan apa yang terdapat dalam Iranian corner. Setelah masuk, dia membaca tulisan Persian dari Iran. Hampir sama dengan bahasa arab. Namun pengucapannya sama dengan arti yang sebenarnya. Berbeda dengan  bahasa Arab yang berbeda arti dengan bacaannya.
Setelah campus tour, rombongan menuju ke ruang pertemuan Fakultas Dakwah untuk acara welcoming party dari FDK. Acara ini dihadiri oleh jajaran dekanat FDK berserta beberapa dosen IKS. Selain itu, dosen mereka dari WSU Zulfan turut serta menyampaikan sambutan kepada rombongan AsiaBOund 2015. Dalam sambutannya beliau mengingatkan para peserta untuk tetap menjaga esehatan dan tidak terlalu capek. Lathifil Khuluk selaku wakil dekan I mengaku senang dengan program AsiaBound ini. Kegiatan ini membantu FDK, khususnya bagi prodi IKS yang sedang melakukan akreditasi. Dengan adanya hubungan internasional ini diharapakan mampu menjadi nilai plus bagi prodi IKS.

Catatan Harian AsiaBound (1): Tiba di Jogja

(Selasa 10/11/15)
Rombongan mahasiswa Western Sidney University (WSU) Australia tiba di Yogyakarta pada Selasa sore (10/11), dengan menggunakan kereta dari Jakarta ke stasiun Tugu Yogyakarta. Mereka terlihat sangat antusias ketika tiba di Yogyakarta. Tim Buddies dari Prodi IKS UIN Sunan Kalijaga telah menanti kedatangan mereka sejak siang.
Sesampainya di Yogyakarta, mereka langsung menuju ke hotel untuk beristirahat. Namun alih-alih beristirahat, mereka justru mengajak para Buddies untuk menemani mereka jalan-jalan menyusuri keindahan kota Yogyakarta pada malam hari. Dari hotel, Buddies dan para tamu berjalan kaki menuju Ambarukmo Plaza (Amplaz) Yogyakarta. Meskipun dengan kondisi jalan yang becek karena hujan, mereka masih tetap semangat dan antusias menikmati malam di kota pelajar ini.
Pada saat melewati jalan raya, mereka heran dengan pengguna jalan yang melaju dengan kecepatan tinggi. Mereka terbiasa dengan kondisi jalan yang aman dan tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang dengan kecepatan tinggi. Mereka bahkan terbiasa berjalan kaki dengan jarak tempuh yang lumayan jauh.
Sepanjang perjalanan menuju Amplaz, mereka membahas makanan khas Indonesia. Ternyata, makanan khas Indonesia tidak asing di lidah mereka. Sebagian dari mereka pernah mencicipi makanan khas Indonesia, seperti nasi goreng, sate, rendang, mie goreng, dan lainnya.
“Aku sangat menyukai makanan Indonesia. I love nasi goreng, sate dan yang paling enak adalah rendang”, ujar Ivan, salah satu peserta AsiaBound.
Banyak sekali perbedaan antara Indonesia dan Australia, mulai dari budaya di jalan raya, makanan, bahkan harga makanan pun berbeda. Harga junk food atau makana siap saji di Indonesia jauh lebih murah dibandingkan dengan Australia. Selepas menikmati  makan malam dan keliling Amplaz, mereka kambali ke hotel untuk beristirahat karena keesokan harinya mereka akan memulai agenda kegiatan di Yogyakarta.

Gambar-gambar suasana kedatangan di Stasiun Tugu


Prof. Mc Donald dan Dr. Iwu Dwisetyani dari ANU Sajikan Hasil Penelitian tentang Kemiskinan

Prof. Peter McDonald sedang menyajika hasil risetnya.
Kamis, 8 Oktober 2015, bertempat di Teatrikal Dakwah, Prodi IKS menyelenggarakan Kuliah Umum Semester Gasal Tahun Akademik 2015-2016 dengan tema ‘Kemiskinan Pemuda dan Perilaku Berisiko Kaum Muda’. Acara yang dimulai tepat pukul 13.30 ini menghadirkan Professor Peter McDonald dan Dr. Iwu Dwisetyani Utomo dari Australian National University (ANU) Canberra. Keduanya memaparkan hasil riset longitudinal terkait kemiskinan pemuda dan perilaku beresiko mereka yang mendorong kemiskinan di wilayah Jakarta dari tahun 2010 – 2014.

Kuliah Umum ini menjadi bagian dari kerjasama internasional antara Prodi IKS dengan ANU yang sedang memiliki  kegiatan penelitian tentang lansia di Gunungkidul dan Kebumen dengan melibatkan 25 enumerator dari mahasiswa Prodi IKS.

Sebelum presentasi narasumber dimulai, ada sambutan yang diberikan oleh Pak Latiful Khuluk, Ph.D selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik mewakili Dekan Fakultas Dakwah & Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, dilanjutkan dengan sambutan menggunakan oleh Ketua Prodi IKS, Bapak Arif Maftuhin, M.Ag. Kedua sambutan disajikan dalam Bahasa Inggris untuk menghormati narasumber dari ANU.

Dimoderatori oleh Ibu Andayani, MSW, Prof. Peter McDonald menyajikan temuan menarik dari studi longitudinal yang ia lakukan terhadap lebih dari 1500 responden kaum muda miskin di Jakarta. Dalam rentang waktu tiga tahun penelitian itu ditemukan bahwa anak-anak muda yang berpendidikan SMA mengalami perubahan taraf hidup yang signifikan sementara yang berpendidikan SMP ke bawah mengalami stagnasi atau malah penurunan taraf kehidupan. "Poverty may be transfered among generations, but the key to break its cycle is education," paparnya.


Acara yang diikuti oleh Angkatan 2014 dan 2015 ini menjadi semakin meriah dengan penampilan Ganita Ajeng Ayunda dan Novika Suryani yang melantunkan lagu-lagu menghibur peserta dengan suara emasnya.

Kegiatan kuliah umum ini berakhir pada pukul 15.30 dan diakhiri dengan penyerahan cenderamata kepada kedua narasumber oleh Ibu Andayani selaku Sekprodi IKS mewakili institusi prodi IKS, kemudian sesi ditutup dengan foto bersama narasumber dengan mahasiswa dan dosen.

Popular Posts