Navigation Menu

Showing posts with label Mahasiswa. Show all posts

Ini cara Anak Sapen dan Sydney Pisahan: Diskusi Bro!


Foto bersama Sebelum Berpisah
Oleh Teguh MU

Jumat (5/2/2016). Acara closing ceremony student workshop: ”Exploring Cross-cultural Social Work”, di hall pascasarjana UIN Sunan Kalijaga berubah menjadi forum diskusi dadakan. Sebanyak 30an peserta baik dari UIN maupun dari Sydney, saling bertukar pendapat mengenai penanganan permasalahan social. Pemicunya adalah presentasi penutup yang disampaikan oleh Mrs. Margareth.
Dalam presentasinya, Margareth memaparkan kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Australia terhadap para imigran gelap. Alasan ekonomi dan politik, menjadi alas an kuat yang mempengaruhi campur tangan pemerintah dalam mengintervensi para imigran. Di Australia, tidak semua warganya menerima keberadaan para pendatang ini. Sebagian orang menganggap para pengungsi (terutama yang berasal dari Negara konflik) dapat menimbulkan masalah baru. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah Australia adalah dengan mengirimkan para imigran tersebut ke pulau-pulau kecil disekitar wilayah perairan Australia.

Di pulau-pulau seperti Nauru dan Christmas Island, yang notabene merupakan Negara dunia ketiga. Tentu masih sangat kekurangan dalam hal sumber daya, baik alam maupun manusia. Menempatkan imigran di kedua pulau tersebut dianggap sebagai langkah ‘pembuangan’ secara halus. Center-center imigran yang tersedia pun dinilai masih kurang memadahi.

Menurut data dari asosiasi pekerja social Australia, ada sekitar 370 pengungsi yang berada di Nauru rawan terhadap tindak kekerasan. Pemerintah Australia seakan cuek dengan apa yang terjadi di Nauru dan center-center yang lain. Besarnya anggaran untuk memfasilitasi mereka menjadi salah satu factor lemahnya perhatian pemerintah terhadap para imigran. Pun dengan mengembalikan mereka ke Negara asal, juga butuh biaya yang besar.

Secara garis besar, Margareth menyimpulkan bahwa, sebagai seorang peksos, peksos jangan hanya terpaku pada tindakan pertolongan level mikro. Peksos juga harus berfikir tentang level makro. Kebijakan yang merugikan klien, merupakan bagian dari sesuatu yang harus diperjuangkan. Oleh karena itulah, sangat pentingt bagi seorang peksos, untuk mampu menganalisis suatu kebijakan, apakah kebijakan tersebut pro rakyat kecil ataukah justru menindas rakyat kecil.

Presentasi dari Margareth tersebut, mendapat respon dari salah satu peserta workshop. Nadjib, mahasiswa IIS UIN, berpendapat bahwa langkah yang dilakukan pemerintahan Australia dengan ‘menggantungkan’ nasib para imigran ini sebagai tindakan yang kurang etis. Nadjib juga mengungkapkan bahwa, baik Indonesia maupun Australia, sebenarnya memiliki kesamaan dalam penanganan imigran. Yakni sama-sama melihat dari aspek ekonomi dan politik, dengan mengesampingkan nilai kemanusiaaan.

Suasana diskusi semakin hidup setelah para peserta saling berbagi pengalaman saat praktik pekerjaan social di negaranya masing-masing. Dari diskusi ini, peserta saling memberi tips dan saran terkait kasus yang dihadapi selama di lapangan. Seperti kasus yang didampingi oleh Ekmil, mahasiswa semester 6 IKS ini mendampingi klien pengguna narkoba. Klien sudah merasa sangat nyaman dengan Ekmil, sehingga klien tidak mau didampingi oleh peksos lain. Menanggapi kasus tersebut, Katie menyarankan kepada Ekmil, agar ketika hendak melakukan intervensi, klien harus diberi pemahaman tentang tugas atau fungsi peksos dalam kasusnya. Peksos juga harus memiliki batasan-batasan tertentu agar kejadian semacam ini tidak terjadi.

A Note from the Student Workshop on Exploring Cross-Cultural Social Work



Exploring Cross-cultural Social Work- 
A Student Workshop by University of Sydney and UIN Kalijaga  
by Nur Kholidah

Yogyakarta (5/2/2016). The profession of social work developed with its unique emphasis on directly helping people as well as improving their environment. Social work deals not only with internal aspect of human condition but also with its external aspects. Social workers are able to help clients to receive needed medical, financial, groceries, educational services that improve their lives. Because social workersact as advocates by helping their clients to access the services from the government, their goals is  to help people become self-sufficient by only doing for people what they may be unable to do for themselves. Its look like our goal as students of social welfare (IKS) at UIN Kalijaga is helping people to help themselves.
            Social workers have to understand social problems in society. The problem in society is very complex. For example: poverty, social stratification, economic issues, public health, abortion, environmental racism, education and public schools, immigrant, work and occupations, ect.  According many social problem in society, students of social welfare already trained to finishing a social problem. So, this workshop be importantly for social work students discussing about social issue in Australia and Indonesia. The first, we have been talking about illegal immigrant in Australia which have a complex of social problem by Mrs. Margaret.
            The Australian government has a controversial policy in dealing with the refugees. The country is not reluctant to stop refugees' boat and make them return or restrain them in Nauru Island. The refugees' life is very heartbreaking, because they stay only on tent in warming area and all of them are locked up with a grating. Nauru island didn’t has a hospital, school, places of worship, a shop for their needed. So one day, there is a pregnant women need a doctor or hospital. Then, this women taken to city in Australia to get medicine by social worker. And this problem made social workers try to make negotiation with Australian government policy to let illegal immigrants have a good life without a grating and they can take a service public in Australia cities, but it have not realizable yet. Although Australian government has given the budgets $1.2 billion to take care of illegal immigrants, but its not good influentially with illegal immigrants. Luckily, church in Australia make career to assist illegal immigrants and protect them. So the government can’t touch them, when an illegal immigrant stay in church, it make some social workers make a cooperation with the church to helping an illegal immigrant to get a good life “hidup layak” .
        In Indonesia, as we know the social problem is complex too, there are poverty and unemployment that has an impact to society. Any job openings really little, it make crimes anywhere. But for solving that problem, government has provided health assurance “JAMKESMAS”, welfare rices, social assist, some scholarship for poverty, etc. It’s just not maximum to help society. If the social services still not maximum, we have to learn about policy which organize about social problem. The same problem with Australia about controversial policy, so social workers should to knowing, learning, criticized about that policy. And then, social workers can change the social condition as a whole.
            Listening to discussion in this workshop, we as social workers need to remember that we need to see social problems more widely. Social workers do not work only in social area, but in the larger area. Social workers need to utilize skills and experience in management, education, research, policy development, politics and economic, to help our clients better.

Mumpung Ada Bule: Launching IKS English Club

25/11/2015
Melepas para tamu mahasiswa Western Sydney University, keluarga besar mahasiswa IKS menggelar acara perpisahan sekaligus launching IKS English Club. Acara ini full kemeriahan walaupun harus berpindah waktu (karena benturan dengan kampanye pemilu mahasiswa) dan tempat dari Taman dakwah ke Ruang Teatrikal akibat hujan deras yang tak kunjung usai.

Kemeriahan sore itu diawali dengan pementasan lagu-lagu ceria oleh PLD Band yang divokali Chaerizanisasi, mahasiswa IKS angkatan 2013. Acara dilanjutkan dengan kesan-pesan yang menampilkan para 'bule' dari Australia. Sesi penuh canda ini dipandu oleh duet Azza-Roma. Roma yang naksir berat Mona sempat tanya, "Apakah selama di UIN Mona pernah ketemu cowok ganteng?" Pertanyaan yang diajukan dalam bahasa Indonesia itu diterjemahkan oleh Ofal (mahasiswa IKS 2010) dalam bahasa Inggris. Mona, tak mau hanya dikerjain di panggung, lantas menjawab, "Only two: you and him" sambil tangannya menunjuk ke Roma, yang langsung pingsan mendengar pujian itu, dan Ofal.

Acara dilanjutkan dengan testimoni semua bule yang satu per satu menyatakan kepuasannya dengan program AsiaBound dan benar-benar mengubah persepsi mereka tentang Indonesia.

Launching IKS English Club dilakukan oleh Kaprodi IKS yang menandai berdirinya klub bahasa Inggris Mahasiswa IKS ini. Klub dibentuk untuk mendorong mahasiswa IKS agar lebih siap dalam pergaulan global.

Setelah itu, giliran Yunda dan Jeha yang tampil menghibur penonton. Acara ditutup dengan foto-foto bareng. Komlit, mulai dari foto berdua sampai selfie rame-rame.

Catatan Harian AsiaBound (2) Campus Tour

Briefing Campus Tour di Depan Gedung PAU
Team Buddies dan Ketua Prodi (Kaprodi) IKS UIN menyambut kedatangan rombongan mahasiswa WSU di Pusat Administrasi Universitas (PAU) UIN pada Rabu pagi (11/11). Agenda pada hari pertama adalah tour campus UIN. Para peserta diajak untuk menjelajahi kampus UIN, mulai dari PAU, kampus Pasca, Pusat bahasa, masjid, perpustakaan, Student Center (SC), Pusat Layanan Difabel (PLD), dan fakultas-fakultas yang terdapat di UIN Sunan Kalijaga.
Campus tour di mulai dari sayap barat kampus UIN. Selama mengikuti campus tour, mereka sangat antusias untuk mengetahui tentang UIN. Saat memasuki masjid, mereka penasaran dengan kubah masjid UIN. Tidak seperti kubah masjid di Indonesia yang biasanya berbentuk bulat atau setengah lingkaran. Arif Maftuhin, selaku Kaprodi yang mendampingi para Buddies menjaleskan, bahwa pada zaman dahulu, pulau Jawa merupakan pusat kerajaan Hindu dan Budha. Kubah masjid diambil dari bentuk pura yang merupakan peninggalan kerajaan Hindu.
Selepas makan siang, campus tour dilanjutkan ke sayap timur kampus UIN. Perjalanan ke sayap timur melewati underpass, jalan yang aman dan nyaman bagi para pejalan kaki. Campus tour di sayap timur, dimulai dari panggung demokrasi (pangdem), tempat favorit para mahasiswa untuk demo dan berorasi menyampaikan aspirasi mereka.
Trip dilanjutkan ke SC, markas berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) serta organisasi mahasiswa. Para tamu mengunjungi markas UKM al-Mizan, UKM andalan UIN SuKa. Mereka mencoba memainkan alat music rebbana. Josh, memamerkan kamampuannya bermain drum. Josh merupakan salah satu dari peserta AsiaBound dari WSU.
Dari SC, rombongan menuju ke PLD. Di sana mereka berbincang-bincang dengan para difabel yang didampingi oleh para relawan. Difabel antusias menyambut para tamu. Salah satu dari difabel, Mega Matahari dengan spontan memeluk Mona Hariri. Sontak Mona kaget, tapi Mona denga mudah beradaptasi dengan Mega. Mega terlihat senang mendapat kunjungan dari para tamu.
Rombongan kembali melanjutkan tour ke kantor IKS. Kemudian melanjutkan tour ke Fakultas Ushuluddin kemudian ke perpustkaan universitas. Para tamu berkeliling di perpustaakan, mengunjungi ruang skripsi, Iranian corner, Arabian corner, serta Canadian corner. Salah satu dari tamu yang berasal dari Iran, penasaran dengan apa yang terdapat dalam Iranian corner. Setelah masuk, dia membaca tulisan Persian dari Iran. Hampir sama dengan bahasa arab. Namun pengucapannya sama dengan arti yang sebenarnya. Berbeda dengan  bahasa Arab yang berbeda arti dengan bacaannya.
Setelah campus tour, rombongan menuju ke ruang pertemuan Fakultas Dakwah untuk acara welcoming party dari FDK. Acara ini dihadiri oleh jajaran dekanat FDK berserta beberapa dosen IKS. Selain itu, dosen mereka dari WSU Zulfan turut serta menyampaikan sambutan kepada rombongan AsiaBOund 2015. Dalam sambutannya beliau mengingatkan para peserta untuk tetap menjaga esehatan dan tidak terlalu capek. Lathifil Khuluk selaku wakil dekan I mengaku senang dengan program AsiaBound ini. Kegiatan ini membantu FDK, khususnya bagi prodi IKS yang sedang melakukan akreditasi. Dengan adanya hubungan internasional ini diharapakan mampu menjadi nilai plus bagi prodi IKS.

Sambut AsiaBound, Tim Buddies Gelar Gladi Kotor

(Senin, 9/11/15)

Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga bekerja sama dengan Western Sydney University (WSU) mengadakan program AsiaBound 2015. Program yang akan diikuti oleh sepuluh mahasiswa WSU ini, bertujuan untuk memperkenalkan Islam dan Indonesia kepada mahasiswa asing.
Mengusung tema “Understanding Islam and Indonesia”, program yang digagas prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) UIN SUKA ini akan berlangsung selama 20 hari (10-26/11). Sebagai tuan rumah, prodi IKS telah menyiapkan student buddies yang bertugas untuk mendampingi mahasiswa WSU selama berada di Yogyakarta. Sebelum menginjakkan kaki di Yogyakarta, para tamu terlebih dahulu transit di Jakarta selama lima hari.
Menurut rencana, mereka akan melakukan Campus Tour UIN SUKA pada Rabu (11/11). Untuk mempersiapkan serta mematangkan kegiatan tersebut, team Buddies yang terdiri dari lima orang, yakni Teguh Setyadi, Nur Kholida, Melia Murniwati, Aufal Marom serta Pujianti yang didampingi oleh salah satu dosen Prodi IKS, M. Ulil Absor melakukan gladi kotor. Para Buddies akan menjadi Tourguide para mahasiswa WSU selama berada di Yogyakarta. Selain itu, mereka juga akan menjadi partner belajar bagi mahasiswa WSU untuk lebih mengenal Indonesia, khususnya Yogyakarta.

Selama gladi kotor, Tim Buddies meninjau tempat-tempat yang akan dipresentasikan kepada para tamu. Selain itu, para Buddies juga mengumpulkan beberapa informasi mengenai bangunan serta sejarahnya di UIN Sunan Kalijaga. Gladi ini bertujuan agar para Buddies pada saat menjadi guide, mereka memberikan informasi yang tepat dan akurat kepada para tamu mengenai seluk beluk dan sejarah UIN.

Menurut agenda, para tamu ini akan mengunjungi tempat-tempt menarik dan khas di Yogyakarta. Mereka juga akan belajar bahasa Indonesia selam dua hari di Pusat Pengembangan Bahasa dan Agama UIN Sunan Kalijaga.

Program Pelatihan Pendidikan Karakter


UIN Sunan Kalijaga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengikuti program Pelatihan Pendidikan Karakter. Program ini gratis, dengan fasilitas tas, makan siang, dan sertifikat. Kuota terbatas. Caranya?
  1. Unduh formulir berikut  https://drive.google.com/file/d/0B5Df1XN8BWeGcXR5bUxaaUZNNmM/view?usp=sharing
  2. Cetak, isi, dan mintalah tandatangan Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Alimatul Qibtiyah, Ph.D

Informasi selanjutnya bisa ditanyakan langsung kepada beliau.

Rekruitmen Student Buddies untuk Program AsiaBound 2015

Prodi IKS bekerjasama dengan University of Western Sydney (UWS) akan menyelenggarakan program AsiaBound 2015. Prodi IKS akan menjadi tuan rumah yang menjamu 10 orang mahasiswa UWS untuk belajar berbagai hal tentang Indonesia. Tahun ini secara khusus mengambil tema: understanding Islam and Indonesia.

Untuk menyambut para tamu itu, Prodi IKS memberi kesempatan kepada para mahasiswa dan alumni untuk ikut bergabung menjadi Student Buddies. Student Buddies adalah istilah yang digunakan untuk mahasiswa IKS yang akan mendampingi para mahasiswa UWS tersebut selama tiga minggu di Indonesia. para student buddies akan aktif terlibat dalam kuliah keislaman dan keindonesiaan, kunjungan ke berbagai situs budaya dan historis, dan mendampingi para mahasiswa Australia untuk menulis dan melakukan riset kecil tentang Islam dan Indonesia.

Flyer lowongan student buddies dapat diunduh dari gambar berikut:

Kuliah Umum Mahasiswa Angkatan 2015

Mahasiswa 2015 memenuhi Convention Hall
FDK UIN Suka menyelenggarakan Studium General (kuliah umum) untuk mahasiswa angkatan 2015, Rabu kemarin (16/9). Bertempat di Convention Hall UIN Suka, panitia mengundang Prof. Akh. Muzakki, salah seorang dosen UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai narasumber. Beliau ditemani Dr. Hamdan Daulay selaku moderator.
Sebelum kuliah umum dimulai, satu grup pemusik menghibur menyemarakkan suasana. Ditambah lagi penampilan seorang komedian stand up comedy dari mahasiswa FDK sendiri, Miko Pentol Bakso sempat membikin bapak Muzakki terpesona, dan tentu saja gelak tawa peserta.
Akh. Muzakki menyampaikan materi berdasar tema dakwah bil hikmah untuk menangani masalah radikalisme dan terorisme. Penyampaian materi yang lugas disertai contoh-contoh kasus kontemporer membuat penjelasannya dapat dicerna dengan mudah.
Akh. Muzakki menerangkan, kata al hikmah itu menurut ibnu Faris, adalah kemampuan untuk mencegah/menahan dari perilaku aniaya. Kemudian yang kedua, perilaku menjauhkan diri dari kebodohan. “Kemampuan untuk mendewasakan diri, selain itu juga mencerdaskan,” kata Muzakki.
Sehingga dakwah bil hal berarti, dakwah yang tidak saja berimplikasi pada level individual saja, namun juga replikasi kepada orang lain. “Kalo cuma mikirin diri sendiri, berarti tidak bil hikmah, jadi ini justru penekanannya keluar,” tambahnya.
Ada contoh salah satu ustad yang memberi solusi terhadap permasalahan pasiennya sangat mistik. Seorang ibu mengeluh sakit encok. Ustad tersebut bilang: “sampean pulang langsung minta maaf sama suami, karena ibu selama ini berani sama suami.”
Disitulah, kata Muzakki, terdapat ruang kosong yang tak terjelaskan. Tak mencerdaskan. Alih-alih menjadikannya itu mistis, solusi harusnya menjelaskan permasalahan dengan jelas dan solusi yang masuk akal, atau demistifikasi. “Mendewasakan melalui mendemistifikasi agama,” terang Muzakki.
“Soal ceramah, saat ini harus hati-hati. Karena terkait dengan maraknya radikalisme dan terorisme. Ada istilahguilty by association,” lanjutnya.
Misal ada mahasiswa pelaku teroris, nah dia ternyata sebelum kejadian, mengikuti perkuliahan seorang dosen. Dicek lah buku catatannya. Nah ternyata ditemukan catatan-catatan perkuliahan yang mengarah terkait kasus terorisme tersebut. Dalam hal ini bisa-bisa dosen tersebut ikut disangka. “Ini karena dihubung-hubungkan tadi, padahal belum tentu terlibat, jadi harus benar-benar hati-hati, pemilihan diksi, kata-katanya…” tandas Muzakki.
Di akhir sesi, mahasiswa baru angkatan 2015 berlomba-lomba mengungkapkan idenya serta menanyakan hal-hal yang dirasa mengganjal. Seperti diungkapkan penanya Yudi Hasian Harahap, menanyakan mengapa media hanya mengalihkan isu-isu yang dikehendaki, sementara banyak permasalahan lebih besar dihadapi bangsa ini. Yudi yang mengaku banyak membaca perkembangan media ini gusar dengan permainan media-media Indonesia.

Sosialisasi Program Akademik untuk Wali Mahasiswa Baru 2015

Senin (31/8/015),sekitar dua ratus lebih orang tua/wali mahasiswa baru 2015 menghadiri “Sosialisasi Program Akademik untuk Wali”. Acara dihelat di Ruang Teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga, mempertemukan pimpinan FDK, pengelola prodi, dan wali mahasiswa.

Sosialisasi ini diharapkan bisa mendekatkan orang tua/wali mahasiswa dengan pihak Fakultas dalam bersama membimbing mahasiswa agar bisa menyesuaikan diri dengan suasana di kampus, belajar dengan nyaman dan lancar, aktif, menghindari hal-hal yang tidak perlu, dan dapat selesai kuliah tepat waktu.

Dekan FDK Dr. Nurjannah, M.Si. beserta jajaran dekanat bergantian menjelaskan mengenai permasalahan-permasalahan yang diutarakan wali mahasiswa. Pertanyaan tersebut antara lain seputar beasiswa, bidik misi, pergaulan mahasiswa, tata krama, sopan santun, organisasi, perkuliahan di UIN Sunan Kalijaga, administrasi, serta informasi akademik lainnya.

Setelah pertemuan di teatrikal, wali mahasiswa dibagi per prodi dan bertemu dengan pengelola prodi masing-masing. Untuk Prodi IKS, ada sekitar 50 wali yang hadir dan ditemui langsung oleh Ketua Prodi IKS di Ruang Kuliah 307. Ketua Prodi IKS menjelaskan berbagai hal terkait status prodi IKS, kompetensi mahasiswa IKS, jaringan yang dimiliki, hingga prospek alumni IKS.

Ketua Prodi IKS mengharapkan partisipasi dan kerjasama penuh para wali mahasiswa karena kesuksesan kuliah tidak hanya bisa digantungkan kepada prodi. Para wali diminta ikut aktif memantau anak-anak mereka dan Prodi IKS akan siapa melayani komunikasi 24 jam per hari bila diperlukan.

Dalam sesi tanya jawab, topik semisal biaya kuliah, hari kuliah, libur, dan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan ditanyakan oleh para wali mahasiswa. Acara ditutup tepat pukul 13.00.

Gelar Sambut Mahasiswa Baru 2015

Setelah melalui dua 'ritual' penerimaan mahasiswa baru, OPAK dan SOSPEM, minggu depan para mahasiswa baru IKS akan memulai kuliah perdana mereka. Sebelum memasuki kesibukan kuliah, hari ini (Kamis, 27/8/2015) Prodi IKS secara resmi menyambut mahasiswa baru di kampus Fakultas Dakwah dan Komunikasi.berbeda dengan prodi lain di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, bagi Prodi IKS, kegiatan ini adalah even tahunan.


Format kegiatan tahun ini dibuat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Acara yang biasa digelar di ruang teatrikal, tahun ini dipindah di taman fakultas dan didukung langsung oleh para mahasiswa senior IKS.  Acara menjadi meriah karena kakak-kakak kelas menampilkan hiburan lagu dan puisi. Sajian seni melengkapi sajian makanan tradisonal jajan pasar yang menjadi penyambut kedatangan para 'tamu' mahasiswa baru.

Setelah berkenalan dengan himpunan mahasiswa jurusan, kegiatan ekstra di IKS, dan berkenalan satu per satu dengan para dosen IKS, mahasiswa baru lalu diberi kesempatan untuk berkenalan langsung dengan para dosen wali akademik mereka. Sambil ngobrol, diiringi pentas musik dan seni, para mahasiswa baru diberi kesempatan untuk menayakan hal-hal khusus terkait akademik dengan para wali mereka. Melalui momen ini diharapkan bisa dengan cepat memperkenalkan mahasiswa baru dan bisa lebih menjalin hubungan yang akrab dengan para wali akademik.

OPAK Mahasiswa Baru IKS

Dekan Dakwah menemui peserta OPAK
Sebanyak 3.762 Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga mengikuti Orientasi dan Pengenalan Akademik (OPAK ) 2015. OPAK tahun ini di laksanakan tanggal 20-22 Agustus 2015 dengan mengambil tema “ Menciptakan Generasi Mahasiswa Ulul Albab yang Berpegang Teguh pada Kearifan Liokal dan Berwawasan Global”. Dari jumlah tersebut, ada 99 mahasiswa baru IKS angkatan 2015 yang turut memeriahkan kegiatan ini.

Kegiatan OPAK ini dibuka oleh Wakil Rektor 3 Bidang kemahasiswaan dan kerjasama, Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA., bertempat digedung Multi Purpose UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (20/8). Dalam pembukaan ini Siti Ruhaini mengatakan bahwa Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga tahun 2015 merupakan mahasiswa Pilihan dan berkualitas tinggi.” Kalian adalah 3.762 Mahasiswa yang terpilih dari 49. 492 pendaftar di UIN Sunan Kalijaga tahun 2015. Dengan in-put yang berkualitas ini maka kami berharap kelak nanti akan mencetak lulusan yang berdaya saing tinggi yang mampu bersaing dan berkiprah ditingkat nasional maupun internasional. Kalian telah resmi memasuki kampus yang sedang berkembang menuju World Class University (WCU) sudah barang tentu harus siap ditempa secara akademik, skill dan mental agar mampu menyongsong masadepan bangsa dan bersaing dikancah dunia”, tutur Siti Ruhaini.

Di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, mahasiswa baru yang mengikuti OPAK ini juga disambut secara khusus oleh jajaran pimpinan dekanat dan prodi. Hadir dalam penyambutan itu ketua dan prodi IKS yang secara khusus menyalami para mahasiswa ini.
Sekprodi IKS menyalami mahasiswa baru


Pembekalan Calon Wisudawan Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Tiara Arsetasani, kedua dari kiri
Jumat (7/8/2015) para calon wiudawan Fakultas Dakwah dan Komunikasi mendapatkan pembekalan. Di antara wisudawan itu terdapat 20 orang calon wisudawan dari Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial. Wisudawati Prodi IKS, Tiara Arsetasani tampil sebagai pemegang IPK tertinggi di FDK dengan nilai rata-rata 3,86. Dalam kesempatan ini, Tiara dan empat wisudawan terbaik dari masing-masing jurusan juga mendapatkan penghargaan dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Dalam acara yang berlangsung di gedung teatrikal FDK tersebut, pembekalan khusus untuk memberikan gambaran bagi alumni FDK diberikan oleh Sudaryono, alumni FDK yang kini bekerja di Indonesiar.

Popular Posts