Navigation Menu

Showing posts with label Suasana Akademik. Show all posts

Ini cara Anak Sapen dan Sydney Pisahan: Diskusi Bro!


Foto bersama Sebelum Berpisah
Oleh Teguh MU

Jumat (5/2/2016). Acara closing ceremony student workshop: ”Exploring Cross-cultural Social Work”, di hall pascasarjana UIN Sunan Kalijaga berubah menjadi forum diskusi dadakan. Sebanyak 30an peserta baik dari UIN maupun dari Sydney, saling bertukar pendapat mengenai penanganan permasalahan social. Pemicunya adalah presentasi penutup yang disampaikan oleh Mrs. Margareth.
Dalam presentasinya, Margareth memaparkan kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Australia terhadap para imigran gelap. Alasan ekonomi dan politik, menjadi alas an kuat yang mempengaruhi campur tangan pemerintah dalam mengintervensi para imigran. Di Australia, tidak semua warganya menerima keberadaan para pendatang ini. Sebagian orang menganggap para pengungsi (terutama yang berasal dari Negara konflik) dapat menimbulkan masalah baru. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah Australia adalah dengan mengirimkan para imigran tersebut ke pulau-pulau kecil disekitar wilayah perairan Australia.

Di pulau-pulau seperti Nauru dan Christmas Island, yang notabene merupakan Negara dunia ketiga. Tentu masih sangat kekurangan dalam hal sumber daya, baik alam maupun manusia. Menempatkan imigran di kedua pulau tersebut dianggap sebagai langkah ‘pembuangan’ secara halus. Center-center imigran yang tersedia pun dinilai masih kurang memadahi.

Menurut data dari asosiasi pekerja social Australia, ada sekitar 370 pengungsi yang berada di Nauru rawan terhadap tindak kekerasan. Pemerintah Australia seakan cuek dengan apa yang terjadi di Nauru dan center-center yang lain. Besarnya anggaran untuk memfasilitasi mereka menjadi salah satu factor lemahnya perhatian pemerintah terhadap para imigran. Pun dengan mengembalikan mereka ke Negara asal, juga butuh biaya yang besar.

Secara garis besar, Margareth menyimpulkan bahwa, sebagai seorang peksos, peksos jangan hanya terpaku pada tindakan pertolongan level mikro. Peksos juga harus berfikir tentang level makro. Kebijakan yang merugikan klien, merupakan bagian dari sesuatu yang harus diperjuangkan. Oleh karena itulah, sangat pentingt bagi seorang peksos, untuk mampu menganalisis suatu kebijakan, apakah kebijakan tersebut pro rakyat kecil ataukah justru menindas rakyat kecil.

Presentasi dari Margareth tersebut, mendapat respon dari salah satu peserta workshop. Nadjib, mahasiswa IIS UIN, berpendapat bahwa langkah yang dilakukan pemerintahan Australia dengan ‘menggantungkan’ nasib para imigran ini sebagai tindakan yang kurang etis. Nadjib juga mengungkapkan bahwa, baik Indonesia maupun Australia, sebenarnya memiliki kesamaan dalam penanganan imigran. Yakni sama-sama melihat dari aspek ekonomi dan politik, dengan mengesampingkan nilai kemanusiaaan.

Suasana diskusi semakin hidup setelah para peserta saling berbagi pengalaman saat praktik pekerjaan social di negaranya masing-masing. Dari diskusi ini, peserta saling memberi tips dan saran terkait kasus yang dihadapi selama di lapangan. Seperti kasus yang didampingi oleh Ekmil, mahasiswa semester 6 IKS ini mendampingi klien pengguna narkoba. Klien sudah merasa sangat nyaman dengan Ekmil, sehingga klien tidak mau didampingi oleh peksos lain. Menanggapi kasus tersebut, Katie menyarankan kepada Ekmil, agar ketika hendak melakukan intervensi, klien harus diberi pemahaman tentang tugas atau fungsi peksos dalam kasusnya. Peksos juga harus memiliki batasan-batasan tertentu agar kejadian semacam ini tidak terjadi.

A Note from the Student Workshop on Exploring Cross-Cultural Social Work



Exploring Cross-cultural Social Work- 
A Student Workshop by University of Sydney and UIN Kalijaga  
by Nur Kholidah

Yogyakarta (5/2/2016). The profession of social work developed with its unique emphasis on directly helping people as well as improving their environment. Social work deals not only with internal aspect of human condition but also with its external aspects. Social workers are able to help clients to receive needed medical, financial, groceries, educational services that improve their lives. Because social workersact as advocates by helping their clients to access the services from the government, their goals is  to help people become self-sufficient by only doing for people what they may be unable to do for themselves. Its look like our goal as students of social welfare (IKS) at UIN Kalijaga is helping people to help themselves.
            Social workers have to understand social problems in society. The problem in society is very complex. For example: poverty, social stratification, economic issues, public health, abortion, environmental racism, education and public schools, immigrant, work and occupations, ect.  According many social problem in society, students of social welfare already trained to finishing a social problem. So, this workshop be importantly for social work students discussing about social issue in Australia and Indonesia. The first, we have been talking about illegal immigrant in Australia which have a complex of social problem by Mrs. Margaret.
            The Australian government has a controversial policy in dealing with the refugees. The country is not reluctant to stop refugees' boat and make them return or restrain them in Nauru Island. The refugees' life is very heartbreaking, because they stay only on tent in warming area and all of them are locked up with a grating. Nauru island didn’t has a hospital, school, places of worship, a shop for their needed. So one day, there is a pregnant women need a doctor or hospital. Then, this women taken to city in Australia to get medicine by social worker. And this problem made social workers try to make negotiation with Australian government policy to let illegal immigrants have a good life without a grating and they can take a service public in Australia cities, but it have not realizable yet. Although Australian government has given the budgets $1.2 billion to take care of illegal immigrants, but its not good influentially with illegal immigrants. Luckily, church in Australia make career to assist illegal immigrants and protect them. So the government can’t touch them, when an illegal immigrant stay in church, it make some social workers make a cooperation with the church to helping an illegal immigrant to get a good life “hidup layak” .
        In Indonesia, as we know the social problem is complex too, there are poverty and unemployment that has an impact to society. Any job openings really little, it make crimes anywhere. But for solving that problem, government has provided health assurance “JAMKESMAS”, welfare rices, social assist, some scholarship for poverty, etc. It’s just not maximum to help society. If the social services still not maximum, we have to learn about policy which organize about social problem. The same problem with Australia about controversial policy, so social workers should to knowing, learning, criticized about that policy. And then, social workers can change the social condition as a whole.
            Listening to discussion in this workshop, we as social workers need to remember that we need to see social problems more widely. Social workers do not work only in social area, but in the larger area. Social workers need to utilize skills and experience in management, education, research, policy development, politics and economic, to help our clients better.

Exploring Cross-Cultural Social Work Bersama Prodi IIS, Prodi IKS dan the University of Sidney


Rabu, 3/2/20016, para mahasiswa Prodi Ilmu Kesejehateraan Sosial mengikuti Student Workshop yang diselenggarakan oleh atas kerjasama Prodi IKS, Prodi IIS (Islamic Interdisciplinary Studies) Pascasarjana UIN, dan Faculty of Education and Social Work, The University of Sydney Australia. Acara ini mengusung tema “Exploring Cross-cultural and Social Work”. Bertempat di hall Pascasarjana UIN pada hari Rabu (3/2). Kegiatan ini diikuti oleh 35 peserta yang terdiri atas 9 mahasiswa Prodi IKS, 10 mahasiswa IIS, 10 mahasiswa Australia, 4 dosen dari UIN serta 2 dosen dari Australia.

Acara diawali dengan presentasi Prof. Fran Waugh. Dalam presentasinya, Fran menjelaskan intergrasi antara pendidikan dengan social work. Menurutnya, pendidikan adalah jangkar dari social work. Beliau juga menegaskan bahwa teori merupakan acuan ketika melakukan praktik lapangan (misalnya dalam kasus PPS di Prodi IKS UIN). Dari pengalaman praktik lapangan, pekerja sosial belajar tentang prinsip-prinsip dalam pekerjaan sosial. Praktik lapangan juga bertujuan untuk mengintegrasikan antara teori dan praktik.

Salah satu peserta, Nur Kholida menceritakan pengalamannya selama praktik. Dia mengatakan bahwa teori yang diajarkan tidak selamanya sesuai dengan praktik di lapangan. Menanggapi pertanyaan itu, Margareth menjelaskan bahwa untuk mengatasi masalah tersebut dibutuhkan skill sebagai seorang peksos. Semakin banyak pekerja sosial mempelajari teori dan semakin banyak pengalaman yang didapat, maka pekerja sosial akan mampu mengatasi tantangan dalam praktiknya.

Pada sesi berikutnya, peserta diberi kesempatan untuk mempresentasikan social work di Indonesia dan social work di Australia. Perwakilan dari Prodi S2 IIS, M. Najib mempresentasikan paradigma intergrasi dan interkoneksi UIN Sunan Kalijaga dan hubungan Islam dengan Social work. Dalam tesis yang sedang dikerjakan, dia melihat bahwa prinsip-prinsip peksos yang dikemukanna oleh para tokoh kesejahteraan sosial seperti Zastrow dinilai masih terlalu umum. Menurutnya, realita di lapangan masih memerlukan prinsip peksos yang lebih spesifik, dan nilai keislaman bisa menjadi salah satu alternatifnya.

Presentasi berikutnya disampaikan oleh perwakilan dari Prosi IKS, M. Aufal Marom. Dalam prsentasinya, ia menampilkan short movie “The Journey of a Social Worker” yang secara singkat menggambarkan profil Prodi IKS. Selain itu, Aufal menceritakan pengalamannya selama praktik pekerjaan sosial. Menurutnya dalam menghadapi klien seorang peksos harus menempatkan dirinya sebagai teman, agar klien merasa nyaman saat dilakukan assessment. Dia menambahkan bahwa masyarakat belum familiar dengan peksos, sehingga ketika mengalami suatu permasalahan mereka cenderung lebih percaya kepada tokoh-tokoh masyarakat.

Menutup sesi presentasi, perwakilan dari mahasiswa Australia, Margot dan Elisa memperkenalkan kampus The University of Sydney kepada para peserta workshop. Dua mahasiswa Australia lainnya, Katie dan Olivia menceritakan pengalaman mereka saat praktik di lembaga-lembaga layanan sosial di Sydney. Katie melakukan praktik di lembaga Women’s Domestic Violence Court Advocacy Center (WDVCAC). Lembaga tersebut menangani kasus wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan menangani korban penelantaran. Sedangkan Olivia melakukan praktik di lembaga yang menangani kasus para pencari suaka di Australia. “Di Australia, para pencari suaka tersebut kami tangani dengan baik. Ada banyak relawan yang membantu, seperti dokter, perawat, pendeta dan lain-lain.”, jelas Olivia.

Student workshop seperti ini, sangat bermanfaat bagi mahasiswa Indonesia maupun mahasiswa Australia. “Ini adalah sebuah pengalaman yang menarik, kita bisa saling bercerita mengenai social work di kedua negara. saya sangat menikmati Indonesia. ini akan sangat membantu untuk study saya.” Ujar Jack Whitney mewakili teman-teman dari Australia. (EMI)

Prodi IKS dan IPSPI Diskusikan RUU Pekerjaan Sosial


Rabu, 20 Januari 2016, bertempat di ruang teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Prodi IKS bekerjasama dengan Pengurus Pusat Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia menyelenggarakan diskusi terkait Rancangan Undang-Undang Pekerjaan Sosial (RUU Peksos).

Diskusi yang menghadirkan Tim Perumus RUU Peksos, yang diketuai oleh Nelson Aritonang dari STKS Bandung, dibuka oleh Kaprodi IKS UIN Sunan Kalijaga. "Prodi IKS sangat mengapresiasi kerjasama ini dan berharap bisa memberikan kontribusi yang signfikan dalam upaya menggolkan RUU ini menjadi UU. Sebab, dari segi materinya, dunia pekerjaan sosial sudah menunggu kehadiran UU ini," kata Arif.

Sementara dekan Fakultas Dakwah yang diwakili wakil dekan bidang akademik, Lathiful Khuluq, Ph.D, juga melihat pentingnya undang-undang itu dari segi berlakunya MEA. "Kita memerlukan dukungan undang-undang agar para pekerja sosial kita bis aberkompetisi dengan baik di pasar tenaga kerja pekerjaan sosial."

Menurut keterangan Dr. Sahawiah, yang mewakili IPSPI, acara yang diselenggarakan hari ini adalah sosialisasi pertama RUU Peksos di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia. Ia berharap, setelah di UIN Sunan Kalijaga, sosialisasi semisal juga bisa di selenggarakan di PT-PT lain. "Kita ingin semua stakeholder seia sekata. Jadi, kalau sewaktu-waktu dunia akademik dimintai masukan oleh DPR, suara kita sudah sama."

Acara ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta dari berbagai elemen terkait dunia pekerjaan sosial. "Selain mahasiswa IKS, kami juga mengundang para alumni, para pekerja sosial, lembaga layanan sosial, dinas sosial, dan perguruan tinggi di Yogyakarta," kata Arin Mamlakah, ketua panitia.

Bagi yang memerlukan naskah akademik dan RUU Pekerjaaan Sosial, dapat mengunduh langsung dan lengkap di bit.ly/RUUpeksos (***)

IFSW-AP International Learning Forum di Jakarta

Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia, Kemensos RI dan International Federation of Social Worker Asia Pacific (IFSW-AP) menyelenggarakan "Internasional Learning Forum" dengan tema "Psychosocial Support in disaster situation : The roles and skills of social worker in Asia Pacific".
Acara ini diselenggarakan dari tanggal 12-14 Januari 2016 di Pusdiklat Marguna, Jakarta  dan dihadiri oleh 60 peserta dari Indonesia, Malaysia, Jepang, Bangladesh, India, dan  Filipina. Hasil dari acara ini adalah berbagai paper terkait psikososial yang akan diterbitkan dalam jurnal.
Selain itu acara juga dimanfaatkan oleh para peserta untuk penguatan skill dan memperluas jaringan.
Peserta mengunjungi lokasi penggusuran Kampung Pulo dan rusunawa di DKI dan lokasi korban longsor di Bogor.
Prodi IKS diwakili oleh Pak Asep Jahidin (dosen) dan Hani Rofiqoh (alumni). Asep mempresentasikan makalah berjudul Psychosocial support to victims of disasters in Yogyakarta sedangkan Hani Rofiqoh menyajikan makalah Post Disaster stress Management through social prejudice by social workers.

Mahasiswa IKS Kuliah Lapangan "Kampung Siaga Bencana"

Pengarahan dari Tim tagana Dinsos

Hari ini (19/12/2015), para mahasiswa yang mengambil mata kuliah Manajemen Bencana melaksanakan perkuliahan langsung di lapangan, dari jam 08.00 - 15.00  di Kelurahan Gedongkiwo, Mantrijeron Kota Yogyakarta. Acara ini terselenggara berkat kerjasama Prodi IKS dengan Tim Tagana Dinsos dan Kampung Siaga Bencana Gedongkiwo. Berikut ini adalah foto-foto saat berlangsungnya kegiatan kuliah yang seru ini.


Kampung Siaga Bencana (KSB) Gedongkiwo
Meninjau Lumbung Sosial KSB
Asesmen Mitigasi Bencana

Simulasi assessment mitigasi banjir di wilayah jalur Sungai Winongo




Mumpung Ada Bule: Launching IKS English Club

25/11/2015
Melepas para tamu mahasiswa Western Sydney University, keluarga besar mahasiswa IKS menggelar acara perpisahan sekaligus launching IKS English Club. Acara ini full kemeriahan walaupun harus berpindah waktu (karena benturan dengan kampanye pemilu mahasiswa) dan tempat dari Taman dakwah ke Ruang Teatrikal akibat hujan deras yang tak kunjung usai.

Kemeriahan sore itu diawali dengan pementasan lagu-lagu ceria oleh PLD Band yang divokali Chaerizanisasi, mahasiswa IKS angkatan 2013. Acara dilanjutkan dengan kesan-pesan yang menampilkan para 'bule' dari Australia. Sesi penuh canda ini dipandu oleh duet Azza-Roma. Roma yang naksir berat Mona sempat tanya, "Apakah selama di UIN Mona pernah ketemu cowok ganteng?" Pertanyaan yang diajukan dalam bahasa Indonesia itu diterjemahkan oleh Ofal (mahasiswa IKS 2010) dalam bahasa Inggris. Mona, tak mau hanya dikerjain di panggung, lantas menjawab, "Only two: you and him" sambil tangannya menunjuk ke Roma, yang langsung pingsan mendengar pujian itu, dan Ofal.

Acara dilanjutkan dengan testimoni semua bule yang satu per satu menyatakan kepuasannya dengan program AsiaBound dan benar-benar mengubah persepsi mereka tentang Indonesia.

Launching IKS English Club dilakukan oleh Kaprodi IKS yang menandai berdirinya klub bahasa Inggris Mahasiswa IKS ini. Klub dibentuk untuk mendorong mahasiswa IKS agar lebih siap dalam pergaulan global.

Setelah itu, giliran Yunda dan Jeha yang tampil menghibur penonton. Acara ditutup dengan foto-foto bareng. Komlit, mulai dari foto berdua sampai selfie rame-rame.

Program Pelatihan Pendidikan Karakter


UIN Sunan Kalijaga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengikuti program Pelatihan Pendidikan Karakter. Program ini gratis, dengan fasilitas tas, makan siang, dan sertifikat. Kuota terbatas. Caranya?
  1. Unduh formulir berikut  https://drive.google.com/file/d/0B5Df1XN8BWeGcXR5bUxaaUZNNmM/view?usp=sharing
  2. Cetak, isi, dan mintalah tandatangan Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Alimatul Qibtiyah, Ph.D

Informasi selanjutnya bisa ditanyakan langsung kepada beliau.

Konferensi Pekerja Sosial Nasional 2015


Prodi IKS UIN sunan Kalijaga, Kamis (22/10/2015) menyelenggarakan Konferensi Nasional Pekerja Sosial. Kegiatan ini didasari pada pemikiran bahwa pekerjaan sosial adalah profesi pertolongan (helping profession) yang bertujuan untuk membantu meningkatkan keberfungsian sosial dengan cakupan obyek sasaran yang terentang mulai dari individu, kelompok, komunitas dan organisasi bahkan sistem dan kebijakan.

Aktivitas pekerjaan sosial bisa ditemukan di segala bidang, mulai dari setting industri, medis, koreksional (penjara), hingga manajemen bencana. Dapat dikatakan bahwa semua profesi yang berusaha meningkatkan kemampuan individu, kelompok, dan sistem sosial dalam memenuhi kebutuhan dasar, menjalankan peran sosial, dan menangani masalah sosial, bisa dikatakan sebagai "pekerja sosial", di mana pun wilayah kerjanya, baik di pemerintahan, Lembaga sosial, maupun Lembaga Swadaya  Masyarakat. Pekerjaan sosial tidaklah selalu identik dengan rehabilitasi dan pemerintah.

Namun sayangnya kesadaran akan realitas tersebut belum menjadi milik bersama para pekerja keadilan sosial, baik pekerja sosial di pemerintahan maupun aktivis di masyarakat, sehingga masing-masing bekerja dalam ruang lingkupnya sendiri dan perspektif masing-masing. Hal ini berdampak pada kurang maksimalnya pelayanan yang diberikan, dan kurang terpadunya penanganan masalah sosial.

Dalam rangka mengkaji dan meningkatkan wawasan, menyatukan visi, dan menguatkan sinergi jejaring  Pekerjaan Sosial dalam konteks keberlanjutan penyelenggaraan kesejahteraan sosial, maka Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga memandang penting menyelenggarakan Konferensi Nasional Pekerjaan Sosial dengan tema "Profesionalisme dan Sinergi Jejaring Pekerjaan Sosial  dalam Mewujudkan Masyarakat Kesejahteraan."

Dengan adanya konferensi ini diharapkan berbagai  gagasan praktis maupun teoritis terkait penguatan profesionalisme pekerja sosial dan model-model jejaring pekerjaan sosial dalam mendorong terciptanya sebuah masyarakat kesejahteraan (welfare society) bisa terhimpun.

Acara dibuka dengan pengayaan dan update perkembangan pekerjaan sosial di Indonesia dengan menghadirkan dua pembicara penting: Dr. Sahawiah (yang mewakili Ketua Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia), yang akan membahas "Profesionalisme  dan Sinergi  Jejaring  Pekerja Sosial dalam berbagai bidang praktek Pekerjaan Sosial", dan Rolianna Darawani Harianja (Pekerja Sosial RS Kanker Dharmais) yang akan menyajikan makalah "Best Practice Pelayanan Profesional dalam Pekerjaan Sosial: Antara Tugas dan Panggilan Hati"

Dalam penyajiannya, Dr. Sahawiah menyebutkan peran pekerja sosial yang semakin penting di masyarakat. "Dulu, pekerjaan sosial umumnya hanya di lingkup kementrian sosial dan seolah-olah pekerjaan sosial itu hanya terkait upaya-upaya di kemensos. Sekarang, ruang perannya semakin terbuka di luar dan kebutuhan terhadap tenaga peksos semakin meningkat." Bahkan, dalam banyak kesempatan, lowongan kebutuhan tenaga pekerjaan sosial sering tidak terpenuhi.

Sementara berdasarkan pengalamannya sebagai pekerja sosial dalam setting rumah sakit, Bu Anna menekankan pentingnya memperkenalkan profesi peerkajaan sosial di lingkungan-lingkungan yang belum tergarap. "Sedikit demi sedikit saya memperkenalkan apa yang bisa dilakukan oleh peksos di rumah sakit hingga akhirnya pekerjaann saya menumpuk dan overload. Sebab, semakin banyak pasien yang memebutuhkan penanganan peksos." Ia menceritakan bagaimana ia bekerja mulai dari jam 6:30 lalu tidak terasa sudah jam 15:30 sementara pasien semakin menumpuk. "Darmais itu rumah sakit kelas A dan jadi rujukan nasional. Jadi pasien kita berasal dari seluruh Indonesia dengan berbagai latar masalah sosial mereka." Kerja peksos dibutuhkan untuk menangani masalah sosial non-medis yang dibawa para pasien. "Misalnya, pasien miskin dari Papua yang tidak bisa membawa pulang jenazah anaknya, kita juga yang mengurus."

Setelah diskusi hangat dengan dua penyaji tersebut, aca dilanjtukan dengan FGD yang terbagi dalam dua tema: peningkatan profesionalitas pekerja sosial dan pengembangan jaringan pekerja sosial. Acara ditutup pada pukul 16.00 dengan sejumlah rekomendasi penting untuk IKS dan aosiasi pekerja sosial profesional.

Prof. Mc Donald dan Dr. Iwu Dwisetyani dari ANU Sajikan Hasil Penelitian tentang Kemiskinan

Prof. Peter McDonald sedang menyajika hasil risetnya.
Kamis, 8 Oktober 2015, bertempat di Teatrikal Dakwah, Prodi IKS menyelenggarakan Kuliah Umum Semester Gasal Tahun Akademik 2015-2016 dengan tema ‘Kemiskinan Pemuda dan Perilaku Berisiko Kaum Muda’. Acara yang dimulai tepat pukul 13.30 ini menghadirkan Professor Peter McDonald dan Dr. Iwu Dwisetyani Utomo dari Australian National University (ANU) Canberra. Keduanya memaparkan hasil riset longitudinal terkait kemiskinan pemuda dan perilaku beresiko mereka yang mendorong kemiskinan di wilayah Jakarta dari tahun 2010 – 2014.

Kuliah Umum ini menjadi bagian dari kerjasama internasional antara Prodi IKS dengan ANU yang sedang memiliki  kegiatan penelitian tentang lansia di Gunungkidul dan Kebumen dengan melibatkan 25 enumerator dari mahasiswa Prodi IKS.

Sebelum presentasi narasumber dimulai, ada sambutan yang diberikan oleh Pak Latiful Khuluk, Ph.D selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik mewakili Dekan Fakultas Dakwah & Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, dilanjutkan dengan sambutan menggunakan oleh Ketua Prodi IKS, Bapak Arif Maftuhin, M.Ag. Kedua sambutan disajikan dalam Bahasa Inggris untuk menghormati narasumber dari ANU.

Dimoderatori oleh Ibu Andayani, MSW, Prof. Peter McDonald menyajikan temuan menarik dari studi longitudinal yang ia lakukan terhadap lebih dari 1500 responden kaum muda miskin di Jakarta. Dalam rentang waktu tiga tahun penelitian itu ditemukan bahwa anak-anak muda yang berpendidikan SMA mengalami perubahan taraf hidup yang signifikan sementara yang berpendidikan SMP ke bawah mengalami stagnasi atau malah penurunan taraf kehidupan. "Poverty may be transfered among generations, but the key to break its cycle is education," paparnya.


Acara yang diikuti oleh Angkatan 2014 dan 2015 ini menjadi semakin meriah dengan penampilan Ganita Ajeng Ayunda dan Novika Suryani yang melantunkan lagu-lagu menghibur peserta dengan suara emasnya.

Kegiatan kuliah umum ini berakhir pada pukul 15.30 dan diakhiri dengan penyerahan cenderamata kepada kedua narasumber oleh Ibu Andayani selaku Sekprodi IKS mewakili institusi prodi IKS, kemudian sesi ditutup dengan foto bersama narasumber dengan mahasiswa dan dosen.

Kuliah Umum Mahasiswa Angkatan 2015

Mahasiswa 2015 memenuhi Convention Hall
FDK UIN Suka menyelenggarakan Studium General (kuliah umum) untuk mahasiswa angkatan 2015, Rabu kemarin (16/9). Bertempat di Convention Hall UIN Suka, panitia mengundang Prof. Akh. Muzakki, salah seorang dosen UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai narasumber. Beliau ditemani Dr. Hamdan Daulay selaku moderator.
Sebelum kuliah umum dimulai, satu grup pemusik menghibur menyemarakkan suasana. Ditambah lagi penampilan seorang komedian stand up comedy dari mahasiswa FDK sendiri, Miko Pentol Bakso sempat membikin bapak Muzakki terpesona, dan tentu saja gelak tawa peserta.
Akh. Muzakki menyampaikan materi berdasar tema dakwah bil hikmah untuk menangani masalah radikalisme dan terorisme. Penyampaian materi yang lugas disertai contoh-contoh kasus kontemporer membuat penjelasannya dapat dicerna dengan mudah.
Akh. Muzakki menerangkan, kata al hikmah itu menurut ibnu Faris, adalah kemampuan untuk mencegah/menahan dari perilaku aniaya. Kemudian yang kedua, perilaku menjauhkan diri dari kebodohan. “Kemampuan untuk mendewasakan diri, selain itu juga mencerdaskan,” kata Muzakki.
Sehingga dakwah bil hal berarti, dakwah yang tidak saja berimplikasi pada level individual saja, namun juga replikasi kepada orang lain. “Kalo cuma mikirin diri sendiri, berarti tidak bil hikmah, jadi ini justru penekanannya keluar,” tambahnya.
Ada contoh salah satu ustad yang memberi solusi terhadap permasalahan pasiennya sangat mistik. Seorang ibu mengeluh sakit encok. Ustad tersebut bilang: “sampean pulang langsung minta maaf sama suami, karena ibu selama ini berani sama suami.”
Disitulah, kata Muzakki, terdapat ruang kosong yang tak terjelaskan. Tak mencerdaskan. Alih-alih menjadikannya itu mistis, solusi harusnya menjelaskan permasalahan dengan jelas dan solusi yang masuk akal, atau demistifikasi. “Mendewasakan melalui mendemistifikasi agama,” terang Muzakki.
“Soal ceramah, saat ini harus hati-hati. Karena terkait dengan maraknya radikalisme dan terorisme. Ada istilahguilty by association,” lanjutnya.
Misal ada mahasiswa pelaku teroris, nah dia ternyata sebelum kejadian, mengikuti perkuliahan seorang dosen. Dicek lah buku catatannya. Nah ternyata ditemukan catatan-catatan perkuliahan yang mengarah terkait kasus terorisme tersebut. Dalam hal ini bisa-bisa dosen tersebut ikut disangka. “Ini karena dihubung-hubungkan tadi, padahal belum tentu terlibat, jadi harus benar-benar hati-hati, pemilihan diksi, kata-katanya…” tandas Muzakki.
Di akhir sesi, mahasiswa baru angkatan 2015 berlomba-lomba mengungkapkan idenya serta menanyakan hal-hal yang dirasa mengganjal. Seperti diungkapkan penanya Yudi Hasian Harahap, menanyakan mengapa media hanya mengalihkan isu-isu yang dikehendaki, sementara banyak permasalahan lebih besar dihadapi bangsa ini. Yudi yang mengaku banyak membaca perkembangan media ini gusar dengan permainan media-media Indonesia.

Sosialisasi Program Akademik untuk Wali Mahasiswa Baru 2015

Senin (31/8/015),sekitar dua ratus lebih orang tua/wali mahasiswa baru 2015 menghadiri “Sosialisasi Program Akademik untuk Wali”. Acara dihelat di Ruang Teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga, mempertemukan pimpinan FDK, pengelola prodi, dan wali mahasiswa.

Sosialisasi ini diharapkan bisa mendekatkan orang tua/wali mahasiswa dengan pihak Fakultas dalam bersama membimbing mahasiswa agar bisa menyesuaikan diri dengan suasana di kampus, belajar dengan nyaman dan lancar, aktif, menghindari hal-hal yang tidak perlu, dan dapat selesai kuliah tepat waktu.

Dekan FDK Dr. Nurjannah, M.Si. beserta jajaran dekanat bergantian menjelaskan mengenai permasalahan-permasalahan yang diutarakan wali mahasiswa. Pertanyaan tersebut antara lain seputar beasiswa, bidik misi, pergaulan mahasiswa, tata krama, sopan santun, organisasi, perkuliahan di UIN Sunan Kalijaga, administrasi, serta informasi akademik lainnya.

Setelah pertemuan di teatrikal, wali mahasiswa dibagi per prodi dan bertemu dengan pengelola prodi masing-masing. Untuk Prodi IKS, ada sekitar 50 wali yang hadir dan ditemui langsung oleh Ketua Prodi IKS di Ruang Kuliah 307. Ketua Prodi IKS menjelaskan berbagai hal terkait status prodi IKS, kompetensi mahasiswa IKS, jaringan yang dimiliki, hingga prospek alumni IKS.

Ketua Prodi IKS mengharapkan partisipasi dan kerjasama penuh para wali mahasiswa karena kesuksesan kuliah tidak hanya bisa digantungkan kepada prodi. Para wali diminta ikut aktif memantau anak-anak mereka dan Prodi IKS akan siapa melayani komunikasi 24 jam per hari bila diperlukan.

Dalam sesi tanya jawab, topik semisal biaya kuliah, hari kuliah, libur, dan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan ditanyakan oleh para wali mahasiswa. Acara ditutup tepat pukul 13.00.

Popular Posts